Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Apindo Bongkar Tantangan Tenaga Kerja RI, 38% Masih Lulusan SD

        Apindo Bongkar Tantangan Tenaga Kerja RI, 38% Masih Lulusan SD Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perubahan pola investasi dan penggunaan mesin otomatis di sektor manufaktur menjadi tantangan bagi penciptaan lapangan kerja formal di Indonesia. Di tengah transformasi industri menuju digitalisasi, kesiapan tenaga kerja dinilai perlu menjadi perhatian agar kebutuhan kompetensi perusahaan sejalan dengan kemampuan pencari kerja.

        Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani mengatakan, perubahan tersebut perlu diikuti dengan pemetaan talenta dan peningkatan keterampilan tenaga kerja. Langkah ini penting untuk mengidentifikasi kesenjangan kompetensi sekaligus mempersiapkan pekerja menghadapi kebutuhan industri yang terus berkembang.

        Shinta menyoroti latar belakang pendidikan tenaga kerja Indonesia yang masih didominasi lulusan dengan tingkat pendidikan relatif rendah. Kondisi itu menjadi tantangan dalam menyiapkan tenaga kerja untuk mengisi pekerjaan yang semakin membutuhkan keterampilan teknis dan digital.

        "Jadi, kalau kita lihat, level struktur ketenagakerjaan kita kan kita semua sudah tahu, ya, 38% lulusan SD. Nah, gimana kita bisa melakukan upskilling dan reskilling? Saya bilang gini, kita sekarang identifikasi dulu talenta, mapping talenta nih," ujar Shinta di Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2026).

        Menurutnya, peningkatan keterampilan tidak cukup dilakukan melalui pelatihan tanpa arah yang jelas. Dunia usaha perlu terlebih dahulu memetakan potensi dan kompetensi tenaga kerja agar program pelatihan sesuai dengan kebutuhan sektor industri.

        Kebutuhan tersebut juga berkaitan dengan perubahan komposisi investasi dan berkembangnya sektor-sektor baru. Industri semikonduktor dan energi terbarukan, misalnya, membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi tertentu. Sementara itu, industri padat karya juga menghadapi perubahan kebutuhan keterampilan seiring penggunaan teknologi otomatisasi.

        Apindo mendorong agar penyiapan tenaga kerja dilakukan dengan menghubungkan pendidikan vokasi dan kebutuhan perusahaan secara langsung. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengembangkan sekolah vokasi di kawasan industri agar materi pembelajaran lebih sesuai dengan kebutuhan manufaktur setempat.

        "Kenapa kita sekarang buka di kawasan-kawasan industri sekolah vokasi yang dibutuhkan oleh industri yang bersangkutan? Karena kita mau link and match-nya jelas. Apa yang keluar itu benar-benar bisa diambil oleh industri yang bersangkutan," kata Shinta.

        Model pendidikan tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan. Dengan keterhubungan yang lebih kuat, lulusan vokasi dapat dipersiapkan untuk mengisi posisi yang memang tersedia di industri.

        Literasi Digital Perlu Lebih Terintegrasi

        Selain penyesuaian pendidikan vokasi, Shinta menekankan pentingnya penguatan literasi digital di tengah meluasnya penggunaan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam kegiatan produksi.

        Otomatisasi membuat pekerja perlu beradaptasi dengan perubahan proses kerja dan penggunaan mesin. Karena itu, penguasaan keterampilan digital dinilai semakin penting, termasuk bagi pekerja di sektor padat karya yang selama ini identik dengan penggunaan tenaga manusia dalam proses produksi.

        Shinta menilai berbagai inisiatif literasi digital yang telah berjalan perlu dikembangkan secara lebih menyeluruh. Menurutnya, program yang dilakukan secara terpisah-pisah berisiko tidak menghasilkan peningkatan kompetensi yang terarah.

        Baca Juga: Apindo:70% Bahan Baku Industri Indonesia Masih Impor

        Baca Juga: Apindo Bongkar Biang Daya Beli Melemah: Kelas Menengah Makin Tertekan

        Baca Juga: PKWT dan Outsource Diperketat, Apindo Ungkap Risiko ke Pekerja

        "AI jelas berperan sangat penting, kita perlu. Now number one that we're doing also is digital literacy, dan ini dilakukan semua. Cuman gimana caranya bisa lebih komprehensif gitu, karena ini sekarang everybody doing it on a silo, kan," ujarnya.

        Di sisi lain, perubahan teknologi dan pola investasi juga menuntut penyesuaian dalam strategi pengembangan tenaga kerja. Kehadiran mesin otomatis di pabrik perlu diimbangi dengan kesiapan pekerja untuk menjalankan, memantau, dan beradaptasi dengan sistem produksi yang semakin digital.

        Bagi dunia usaha, pemetaan talenta, peningkatan keterampilan, dan penguatan pendidikan vokasi menjadi bagian dari upaya menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja dengan arah transformasi industri. Tanpa persiapan yang memadai, perubahan kebutuhan kompetensi berpotensi memperlebar kesenjangan antara keterampilan pencari kerja dan kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: