PT Merck Tbk Perkuat Fokus Bisnis Healthcare dan Perluas Produksi Obat Resep ke Pasar Asia
Kredit Foto: Istimewa
PT Merck Tbk (“Perseroan”), perusahaan sains dan teknologi, hari ini menyelenggarakan Public Expose 2026 untuk menyampaikan perkembangan bisnis, serta fokus dan strategi Perseroan ke depan. Di tengah perubahan yang akan terjadi setelah berakhirnya kontrak dengan Procter & Gamble (P&G) pada 31 Desember 2027 dan tidak diproduksinya lagi produk Consumer Health, Perseroan menegaskan komitmen untuk terus berfokus pada bisnis obat-obat resep, didukung kinerja semester I 2026 yang tumbuh kuat.
Arryo Aritrixso Wachjuwidajat, Direktur PT Merck Tbk mengatakan, “Merck berkomitmen untuk memperkuat produksi dan pemasaran obat-obat resep sebagai bagian penting dari kontribusi kami bagi kesehatan masyarakat Indonesia, sekaligus mengoptimalkan kapabilitas Pabrik Pasar Rebo untuk mendukung kebutuhan pasar domestik dan memperluas jangkauan ke pasar Asia. Dengan fokus pada kebutuhan pasien dan pengembangan portofolio, kami siap membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang.”
Fokus pada Obat Resep dan Ekspansi ke Pasar Asia
Ke depan, Merck tetap fokus pada bisnis obat resep, dengan memproduksi di Pabrik Pasar Rebo Jakarta, mengimpor produk jadi berbasis bioteknologi, serta memasarkan produk-produk tersebut di Indonesia. Saat ini sekitar 60% penjualan Healthcare berasal dari produk bioteknologi impor dan sekitar 40% dari produksi sendiri.
Pabrik Pasar Rebo juga disiapkan untuk memperkuat kontribusi ekspor obat resep. Dalam tiga tahun ke depan, pabrik ini secara bertahap akan memproduksi Glucophage XR, Glucophage IR, Glucovance, dan Concor untuk pasar Asia, dengan rencana ekspansi mencakup Filipina pada 2026, serta Hong Kong, Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand pada 2027–2029.
Di pasar domestik, produk-produk Merck masih menempati posisi nomor satu di sejumlah area terapi, yaitu tiroid (Euthyrox dan Thyrozol), kardiovaskular (Concor), diabetes (Glucophage dan Glucovance), multiple sclerosis (Mavenclad dan Rebif), fertility (Pergoveris dan Gonal-f), growth hormone (Saizen), serta onkologi (Erbitux untuk kanker kolorektal). Pertumbuhan Merck sebesar 7,7% berada di atas pertumbuhan pasar total sebesar 6,2% dan pasar ethical sebesar 6,5%. Perseroan juga menempati posisi nomor delapan dalam peringkat perusahaan farmasi asing (MNC).¹
Selain itu, Perseroan terus mengakselerasi produk Bavencio dan Mavenclad, meluncurkan TEPMETKO (tepotinib) untuk kanker paru-paru, serta menjajaki potensi tambahan produk dari akuisisi SpringWorks yang akan disesuaikan dengan business case untuk pasar Indonesia.
Kinerja Semester I 2026 Tumbuh Kuat
Laba bersih Perseroan pada semester I 2026 meningkat sekitar 396% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, atau hampir empat kali lipat. Pada periode yang sama, volume produk P&G menurun 0,7% karena Perseroan tidak lagi memasok produk liquid, sementara harga pasokan meningkat 98% seiring dengan penyesuaian harga sesuai Manufacturing Supply Agreement (MSA) terbaru.
Dari sisi kesehatan keuangan, rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio) berada di kisaran 0,27 kali, yang menunjukkan bahwa ekuitas Perseroan lebih besar dibandingkan utang. Rasio lancar (current ratio) sebesar 5 mencerminkan likuiditas yang baik. Sementara itu, return on assets tercatat sebesar 9,10% dan return on equity sebesar 11,59%.
Meskipun Perseroan mencatatkan kinerja positif pada semester I 2026, kondisi tersebut tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan untuk mengakui penurunan nilai aset, karena evaluasi penurunan nilai mempertimbangkan kondisi dan prospek aset tersebut.
Penurunan Nilai Aset Pabrik Pasar Rebo Jakarta
Sebelumnya dalam Keterbukaan Informasi 24 September 2026, Perseroan telah mengumumkan pencatatan penurunan nilai aset Pabrik Pasar Rebo Jakarta sebesar Rp87 miliar pada 30 September 2026. Penurunan nilai ini terutama dipengaruhi oleh perubahan material dalam prospek volume produksi, utilisasi kapasitas, dan arus kas masa depan menjelang berakhirnya MSA dengan P&G, serta berdampak pada nilai tercatat aset dan laba Perseroan pada 2026. Risiko penyesuaian nilai aset ini telah diungkapkan dalam Laporan Tahunan 2024 dan 2025.
Bambang Nurcahyo, Direktur PT Merck Tbk mengatakan, “Transparansi adalah prinsip yang kami pegang. Karena itu, kami mengevaluasi nilai aset Pabrik Pasar Rebo secara cermat bersama penilai independen dan mencatat penurunan nilai tersebut sesuai dengan hasil evaluasi serta ketentuan akuntansi yang berlaku. Langkah ini mencerminkan komitmen kami terhadap tata kelola yang baik dan memperkuat fondasi Perseroan untuk bertumbuh ke depan.”
Evaluasi Perseroan mempertimbangkan hasil penilaian dari penilai independen KJPP Suwendho Rinaldy dan Rekan (KJPP SRR), yang menetapkan nilai pasar aset sebesar Rp93 miliar per 31 Agustus 2026. Dengan menerapkan pendekatan konservatif sesuai panduan Merck Group Accounting dan ketentuan PSAK yang berlaku, Perseroan mengakui beban penurunan nilai sebesar Rp87 miliar, sehingga nilai buku neto aset setelah penurunan nilai menjadi Rp75 miliar. Pencatatan dilakukan pada September 2026 agar tercermin dalam pembukuan kuartal III 2026, sehingga publik memperoleh transparansi dan informasi lebih cepat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Redaksi
Tag Terkait: