Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pasar AI Tembus US$1,5 Triliun, Kadin Soroti Ketergantungan Chip Asing

        Pasar AI Tembus US$1,5 Triliun, Kadin Soroti Ketergantungan Chip Asing Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Anindya Novyan Bakrie menyoroti potensi ekonomi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang diperkirakan dapat menciptakan pasar baru senilai US$1,5 triliun. Namun, peluang tersebut turut diiringi tantangan berupa konsentrasi industri semikonduktor di sejumlah negara yang berpotensi memengaruhi posisi Indonesia dalam ekonomi digital global.

        Anindya mengatakan, disrupsi teknologi menjadi salah satu dari enam tekanan ekonomi yang dihadapi dunia usaha di tengah perubahan geopolitik dan perlambatan perdagangan internasional.

        “Yang sekarang sering mendengar Artificial Intelligence (AI), yang jumlahnya bisa membuat pasar baru US$1,5 triliun,” ujar Anindya dalam agenda Pembicara pada PPNK Angkatan VII Kadin–Lemhannas RI, Sabtu (10/10/2026).

        Menurutnya, potensi tersebut perlu dicermati karena industri semikonduktor sebagai salah satu komponen penting dalam pengembangan teknologi AI masih terkonsentrasi di luar Indonesia, terutama di Amerika Serikat serta sejumlah negara dan wilayah di Asia, termasuk China dan Taiwan.

        Kondisi ini menjadi tantangan bagi Indonesia untuk memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari perkembangan AI. Pasalnya, pertumbuhan pasar teknologi tidak hanya berkaitan dengan penggunaan aplikasi berbasis AI, tetapi juga kemampuan suatu negara untuk mengambil bagian dalam rantai pasok teknologi yang menopangnya.

        Anindya menilai, disrupsi teknologi merupakan bagian dari perubahan tatanan ekonomi global yang kini menjadi tantangan baru bagi pelaku usaha. Selain perkembangan AI, dunia usaha juga menghadapi tekanan geopolitik, perubahan kondisi ekonomi domestik, faktor lingkungan, perubahan iklim, dan bencana alam.

        Berbagai tekanan tersebut, menurutnya, membentuk kondisi ekonomi baru yang perlu diantisipasi oleh dunia usaha agar tetap mampu beradaptasi dan menjaga daya saing.

        Di tengah situasi tersebut, Anindya menekankan pentingnya memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta. Ia mendorong dunia usaha dan pemerintah bergerak dalam satu arah untuk meningkatkan daya saing Indonesia di tengah persaingan global.

        “Di era new normal itu, negara yang tidak bersatu dengan dunia usahanya akan kalah dari negara yang bersatu,” katanya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: