Pengamat: Bagi Jokowi, Jangankan Dua Periode, Gibran Tak Dimakzulkan Saja Sudah Bagus
Kredit Foto: ChatGPT/Belinda Safitri
Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) belakangan dinilai tak lagi lantang menyuarakan duet Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode.
Alih-alih terus mendorong skema tersebut, Jokowi justru menyebut Pemilu 2029 masih jauh. Perubahan sikap ini diduga berkaitan dengan upaya menjaga kelangsungan karier politik putra sulungnya.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, melihat ada dua kemungkinan yang melatarbelakangi perubahan narasi Jokowi.
Salah satunya berkaitan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai gugatan persyaratan pendidikan Gibran yang dinilai berpotensi memengaruhi reputasi dan kredibilitas Wakil Presiden tersebut.
Baca Juga: Aktivis: Rocky Gerung Dikenal Sering Bicara Berbusa-busa soal Moral, tapi Tidak Beretika ke Gibran
"Pascaputusan MK, reputasi dan kredibilitas Gibran sudah pada titik nadir, padahal itu adalah modal politik untuk berkontestasi pada pilpres mendatang," kata Jamiluddin kepada wartawan.
Menurut Jamiluddin, kondisi tersebut bisa membuat Jokowi lebih realistis dalam membaca masa depan politik Gibran. Alih-alih membicarakan peluang dua periode pada Pilpres 2029, mempertahankan posisi Gibran sebagai wakil presiden tanpa menghadapi pemakzulan dinilai bisa menjadi prioritas.
"Bisa saja Jokowi berpikir posisi politik Gibran sudah di ujung tanduk. Bagi Jokowi, jangankan dua periode, Gibran tidak dimakzulkan saja sudah bagus," ujarnya.
Jamiluddin menduga Jokowi akan memanfaatkan sisa pengaruh politiknya untuk menjaga posisi Gibran di pemerintahan. Upaya itu, menurutnya, bisa dilakukan melalui lobi kepada para ketua umum partai politik, termasuk Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Loyalis Jokowi soal Polemik Ijazah Gibran: UU Mintanya Minimal SMA, Boleh Lebih Tinggi
"Untuk itu, Jokowi tampaknya akan menggunakan sisa-sisa pengaruhnya untuk melobi para ketua umum partai untuk tidak memakzulkan Gibran. Termasuk tentunya Presiden Prabowo Subianto,” ungkap Jamiluddin.
Namun, Jamiluddin melihat ada kemungkinan lain di balik perubahan sikap Jokowi. Ia menilai Jokowi belum tentu sepenuhnya yakin terhadap peluang Prabowo dalam Pilpres 2029. Dengan menyebut Pemilu masih jauh, Jokowi dinilai memiliki ruang lebih luas untuk menyesuaikan strategi politiknya berdasarkan perkembangan situasi.
Menurut dia, Jokowi tidak ingin masa depan politik Gibran sepenuhnya bergantung pada keputusan Prabowo maupun koalisi partai pendukung pemerintah. Karena itu, peluang Gibran untuk maju sebagai calon presiden ataupun kembali menjadi calon wakil presiden bisa tetap terbuka, bergantung pada kalkulasi politik menjelang pemilihan.
Jika mendekati Pilpres 2029 peluang Prabowo dinilai melemah, Jamiluddin menduga Jokowi bisa mempertimbangkan Gibran sebagai calon presiden dengan mencari pasangan yang memiliki elektabilitas tinggi. Sebaliknya, apabila Prabowo masih memiliki peluang politik yang kuat, Jokowi diperkirakan akan berupaya mempertahankan Gibran sebagai calon wakil presiden.
"Jadi, perubahan sikap itu tampaknya disengaja. Sebab dengan perubahan sikap itu Jokowi bisa lebih bebas menentukan Gibran menjadi capres atau tetap menjadi cawapres,” sebut Ritonga.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: