Indonesia Butuh 450 Ribu Talenta Digital per Tahun, JHIC Dorong Inovasi Digital Sekolah
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Ketersediaan sumber daya manusia dengan kompetensi digital menjadi salah satu tantangan dalam mempercepat transformasi ekonomi Indonesia.
Dengan kebutuhan tambahan sekitar 450 ribu talenta digital setiap tahun, penguatan keterampilan berbasis teknologi sejak bangku sekolah menjadi bagian penting untuk memenuhi kebutuhan industri pada masa mendatang.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan ketersediaan 12 juta talenta digital pada 2030. Sementara itu, jumlah talenta digital nasional saat ini tercatat sekitar 9,3 juta orang. Selisih tersebut menunjukkan perlunya upaya berkelanjutan untuk memperluas akses pendidikan dan pelatihan digital.
Pengembangan talenta digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, seperti pemrograman dan pengembangan situs web. Kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, serta keterampilan merancang solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat juga menjadi kompetensi yang dibutuhkan dalam ekosistem ekonomi digital.
Salah satu upaya pengembangan kompetensi tersebut dilakukan melalui Jagoan Hosting Innovation Competition (JHIC) 2026. Kompetisi yang diinisiasi Jagoan Hosting dengan dukungan Komdigi dan Ngalup.co sebagai mitra penyelenggara ini melibatkan guru serta siswa dalam pembelajaran berbasis proyek dan pengembangan inovasi digital.
Setelah melalui tahapan pembelajaran, pendampingan, pengembangan proyek, hingga final, JHIC 2026 memberikan penghargaan kepada 10 guru melalui kategori Guru Penggerak Inovasi Digital dan 10 kelompok siswa pada kategori Web Development serta Business Plan.
Pada kategori Guru Penggerak Inovasi Digital, penerima penghargaan berasal dari berbagai sekolah di Indonesia. Mereka adalah Aulia Febriana Romadhoni, S.Pd dari SMAN 1 Bululawang; Eka Nur Ahmad Romadhoni dari SMKN 2 Depok Sleman; Faisal Abda'u Khaidar dari SMK Islam Tanwirul Afkar; Joko Endriyanto dari SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo; dan Muhammad Ifdlol Abdul Hafidh dari SMAN 6 Tangerang.
Penerima lainnya meliputi Nailul Authar dari SMKN 1 Brondong; Pangadongan Elfin Pujianto dari SMKN 1 Ampelgading Malang; Sulistiyono dari SMK Negeri 1 Pugung; Tri Mulyo dari SMK Negeri 1 Ngawen; serta Wendra Bagas Saputra dari SMKN 1 Kawunganten.
Sementara itu, kategori Web Development dimenangkan oleh kelompok Threenager dari SMK Negeri 1 Yogyakarta, Apa Ajalah Yang Penting Bagus dari SMK Telkom Jakarta, Chevron dari SMK Telkom Sidoarjo, Hamdalah dari SMKN 2 Kota Mojokerto, serta Sesuatu di Jogja dari MAN Kota Batu.
Untuk kategori Business Plan, lima kelompok yang meraih penghargaan adalah Ikan Goreng dari MAN 4 Jakarta, PPLG SMEMSA dari SMKS Muhammadiyah 1 Genteng, PatangPuluhPatang dari SMK Negeri 1 Bantul, Mutudev dari SMK Muhammadiyah 1 Sidoarjo, serta Knot dari SMA LHI.
Direktur Jagoan Hosting Andy Novianto mengatakan, JHIC dirancang sebagai ruang pembelajaran yang mempertemukan peserta dengan tantangan nyata di dunia digital. Melalui pendekatan tersebut, peserta didorong mengembangkan ide, menguji solusi, dan memperoleh pengalaman yang relevan dengan kebutuhan industri.
"JHIC kami rancang bukan sekadar sebagai kompetisi, tetapi sebagai ruang belajar yang mempertemukan peserta dengan tantangan dan kebutuhan nyata di dunia digital. Kami ingin peserta berani mengembangkan ide, menguji solusi, sekaligus mendapatkan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan industri," kata Andy, Senin (19/10/2026)
Pada penyelenggaraan tahun ini, JHIC memperluas fokus dari infrastruktur digital menuju inovasi yang lebih inklusif. Peserta tidak hanya diarahkan untuk menguasai keterampilan teknis, tetapi juga didorong menghasilkan gagasan yang dapat menjawab persoalan di lingkungan sekitar.
Dalam kategori Web Development, peserta mengembangkan situs web dengan memanfaatkan teknologi digital. Adapun kategori Business Plan berfokus pada penyusunan gagasan usaha yang memiliki nilai dan potensi untuk menyelesaikan permasalahan tertentu.
Pendekatan tersebut membuka ruang bagi siswa dengan latar belakang kemampuan yang beragam, termasuk mereka yang tidak memiliki dasar pendidikan teknologi informasi. Dengan demikian, pengembangan talenta digital dapat mencakup keterampilan teknis sekaligus kemampuan berpikir kreatif dan kewirausahaan.
Selain siswa, keterlibatan guru menjadi bagian dari upaya memperluas kompetensi digital di lingkungan pendidikan. Penghargaan Guru Penggerak Inovasi Digital ditujukan untuk mengapresiasi tenaga pendidik yang memanfaatkan teknologi dalam mendukung proses pembelajaran.
Andy menilai, pengembangan talenta digital perlu memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk belajar dan berinovasi tanpa terbatas pada kemampuan teknis yang telah dimiliki sebelumnya.
"Melalui JHIC, kami ingin memastikan bahwa kesempatan untuk belajar dan berinovasi di bidang digital tidak hanya terbuka bagi mereka yang sudah memiliki kemampuan teknis. Ide, kreativitas, dan kemampuan melihat masalah juga merupakan bagian penting dari talenta digital," ujarnya.
Pengalaman mengikuti pembelajaran, mentoring, dan pengembangan proyek diharapkan dapat membantu peserta meningkatkan keterampilan teknis, mengasah kemampuan pemecahan masalah, serta mengenal kebutuhan industri. Bagi sekolah, pengalaman tersebut juga dapat menjadi bahan pengembangan pembelajaran yang lebih dekat dengan penerapan teknologi.
Baca Juga: Komdigi Minta Perusahaan Waspada, Agen AI Bisa Bertindak di Luar Batas
Baca Juga: Ekonom Minta Komdigi Jaga Ekosistem UMKM dalam Aturan Biaya Pengantaran
Kolaborasi antara sektor industri, pendidikan, dan pemerintah menjadi salah satu pendekatan dalam memperluas basis talenta digital nasional. Melalui keterlibatan sekolah, pengembangan kompetensi dapat dimulai lebih awal sehingga siswa memiliki kesempatan untuk mengenal teknologi sekaligus menggunakannya dalam menyelesaikan persoalan.
Sementara itu, pada penyelenggaraan sebelumnya, JHIC melibatkan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai sekolah di Pulau Jawa, Sulawesi, Sumatera, hingga Kalimantan. Pada 2025, sebanyak 185 siswa SMK yang tergabung dalam 30 tim finalis berkompetisi di tingkat nasional dengan mengembangkan situs web sekolah berbasis teknologi cloud.
Di tengah kebutuhan tambahan sekitar 450 ribu talenta digital per tahun, penguatan kompetensi sejak bangku sekolah menjadi salah satu bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Selain penguasaan keterampilan teknis, kemampuan menciptakan inovasi dan mengembangkan solusi juga menjadi bekal untuk menghadapi kebutuhan ekonomi digital yang terus berkembang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: