- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Barclays Bakal PHK 5.000 Karyawan Imbas Efisiensi AI, Laba Justru Naik 12%
Kredit Foto: Reuters/Simon Dawson
Raksasa perbankan asal Inggris, Barclays, berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 5.000 karyawan sebagai bagian dari program efisiensi operasional yang didorong oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 5% dari total tenaga kerja perusahaan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Barclays menyederhanakan struktur organisasi sekaligus menyediakan ruang pendanaan untuk investasi teknologi.
Rencana pengurangan tenaga kerja itu disampaikan bersamaan dengan laporan kinerja keuangan Barclays untuk kuartal III, sebagaimana dikutip dari CNBC International.
Manajemen Barclays menjelaskan bahwa perusahaan tengah melakukan perubahan struktural terhadap basis biaya operasional untuk meningkatkan efisiensi bisnis dalam jangka panjang.
Salah satu fokusnya adalah memanfaatkan teknologi AI guna mengubah proses kerja dan mengurangi kebutuhan tenaga kerja pada sejumlah fungsi tertentu.
"Penyederhanaan organisasi dan perubahan teknologi yang didorong oleh AI, sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi," tulis manajemen Barclays dalam keterangan resminya, seperti diberitakan Sabtu (24/10/2026).
Berdasarkan rencana tersebut, sekitar 60% dari total posisi yang terdampak diperkirakan berasal dari fungsi pendukung perusahaan.
Jika dihitung dari target pengurangan 5.000 pekerja, sekitar 3.000 posisi berpotensi berasal dari kelompok fungsi tersebut.
Salah satu bidang yang disebut akan terdampak adalah pengembangan perangkat lunak atau software development.
Hal ini menunjukkan bahwa transformasi teknologi tidak hanya memengaruhi pekerjaan administratif, tetapi juga sejumlah fungsi teknis yang selama ini mendukung operasional perbankan.
Meski demikian, perusahaan belum merinci pembagian pengurangan tenaga kerja berdasarkan wilayah operasional, unit bisnis, maupun jadwal pelaksanaannya dalam informasi yang tersedia.
Barclays menyatakan bahwa efisiensi biaya tersebut diperlukan agar perusahaan memiliki kapasitas lebih besar untuk membiayai investasi dan mendukung perubahan model operasional. Rencana restrukturisasi itu muncul ketika kinerja laba perusahaan masih mencatatkan pertumbuhan positif.
Pada kuartal III, Barclays membukukan laba sebelum pajak sebesar 2,3 miliar pound sterling atau sekitar Rp55,5 triliun berdasarkan konversi yang tercantum dalam laporan sumber.
Perolehan tersebut meningkat 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, pendapatan grup mencapai 7,4 miliar pound sterling, lebih rendah dibandingkan estimasi analis sebesar 7,61 miliar pound sterling.
Dengan demikian, realisasi pendapatan Barclays berada sekitar 210 juta pound sterling di bawah ekspektasi pasar. Sementara itu, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tercatat relatif stabil pada level 3,91 miliar pound sterling.
Pendapatan bunga bersih merupakan salah satu indikator penting bagi perbankan karena mencerminkan selisih antara pendapatan bunga yang diterima dan beban bunga yang dibayarkan.
Dari sisi permodalan, rasio Common Equity Tier 1 (CET1) Barclays mengalami penurunan tipis menjadi 14,2%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi akhir kuartal II yang mencapai 14,3%.
Rasio CET1 digunakan untuk mengukur kekuatan modal inti bank dalam menyerap potensi kerugian serta mendukung ketahanan keuangan perusahaan.
Baca Juga: Kena PHK di Usia 47 Tahun, Syarif Kini Harus Bersaing dengan Pelamar Muda
Baca Juga: PHK di Jabar Masih Tinggi Meski Investasi Melonjak Tajam, Ini Pengakuan Dedi Mulyadi
Baca Juga: Meski Pendapatan Tembus US$45,2 Miliar, Netflix PHK 1.000 Karyawan Terbesar Sejak 2022
Selain itu, tingkat pengembalian atas ekuitas berwujud atau return on tangible equity (RoTE) Barclays tercatat sebesar 11,7%. Capaian tersebut menurun dibandingkan posisi kuartal sebelumnya yang berada pada level 16,1%.
Penurunan RoTE menunjukkan adanya perubahan tingkat pengembalian yang dihasilkan perusahaan atas modal berwujudnya pada periode pelaporan.
Di tengah perkembangan tersebut, Barclays tetap melanjutkan agenda efisiensi dengan mengombinasikan penyederhanaan organisasi dan investasi teknologi.
Pemanfaatan AI menjadi salah satu unsur penting dalam perubahan operasional yang direncanakan perusahaan, terutama pada fungsi-fungsi yang dinilai dapat dijalankan secara lebih efisien.
Namun, informasi yang tersedia belum menjelaskan besaran penghematan biaya yang ditargetkan dari rencana PHK tersebut maupun nilai investasi AI yang akan dialokasikan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: