Barclays: The Fed Tak Akan Turunkan Suku Bunga Dolar di 2026
Kredit Foto: Antara/Bagus Ahmad Rizaldi
Bank Investasi Inggris, Barclays memperkirakan bahwa tahun ini tidak akan ada pemangkasan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. Hal ini menyusul tekanan inflasi yang masih tinggi akibat lonjakan harga energi terkait konflik di Timur Tengah.
Barclays menyebut kenaikan harga minyak yang berkepanjangan menjadi faktor utama yang menghambat peluang pelonggaran kebijakan moneter dari Washington.
Baca Juga: Regulasi Kripto Amerika Serikat Mulai Jelas, Harga Bitcoin (5/5) Tembus US$80.000!
“Kami memperkirakan harga minyak yang lebih tinggi dan bertahan lama akan mendorong inflasi, baik secara umum maupun inti, serta sedikit menekan pertumbuhan ekonomi,” ungkap Barclays.
Sebelumnya, Barclays memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September 2026. Namun kini revisi proyeksi tersebut menjadi tidak ada pemangkasan tahun ini. Meski demikian, bank tersebut masih mempertahankan proyeksi penurunan suku bunga pada Maret 2027.
Pandangan ini sejalan dengan tren global di mana sejumlah lembaga keuangan mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga di AS.
Awalnya, pasar memperkirakan dua kali pemangkasan pada tahun ini, namun kini proyeksi terpecah antara skenario pelonggaran terbatas atau tidak ada pemangkasan sama sekali.
Sebelumnya, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga dalam keputusan yang paling terpecah sejak 1992. Hal itu mencerminkan kekhawatiran meningkatnya tekanan inflasi akibat harga energi.
Inflasi Amerika Serikat sendiri masih berada di atas target yang ditetapkan oleh The Fed. Sementara gangguan pasokan minyak global akibat konflik terus memberikan tekanan tambahan. Barclays menilai kondisi ini juga dapat berdampak pada konsumsi masyarakat.
“Harga energi yang tinggi akan membebani pengeluaran konsumen, meskipun sebagian dampaknya dapat diimbangi oleh peningkatan investasi bisnis, khususnya di sektor energi dan kecerdasan buatan,” ungkap Barclays.
Namun, Barclays juga membuka kemungkinan perubahan kebijakan jika kondisi ekonomi memburuk.
“Jika tingkat pengangguran meningkat secara tiba-tiba, kami memperkirakan bank sentral akan memangkas suku bunga lebih cepat dan agresif,” lanjutnya.
Baca Juga: Tarif Pesawat dan BBM Jadi Pendorong Utama Inflasi di Jakarta Pada Bulan April 2026
Di pasar keuangan, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 78,7% bahwa suku bunga tidak akan berubah hingga akhir tahun. Hal itu mencerminkan meningkatnya kehati-hatian terhadap arah kebijakan moneter di tengah ketidakpastian global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: