Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Wakil Ketua MK Saldi Isra Khawatir AI Bikin Anak Muda Kehilangan Kemampuan Ini

        Wakil Ketua MK Saldi Isra Khawatir AI Bikin Anak Muda Kehilangan Kemampuan Ini Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Saldi Isra mengingatkan generasi muda agar tidak membiarkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menggantikan kemampuan yang seharusnya mereka kembangkan sendiri.

        Ia menilai teknologi tersebut boleh digunakan sebagai alat bantu, tetapi jangan sampai membuat penggunanya kehilangan kebiasaan membaca, kemampuan menulis, dan keterampilan berkomunikasi.

        Saldi mencontohkan mahasiswa yang mendapat tugas membuat makalah dari dosen, tetapi langsung menyerahkan seluruh pekerjaan kepada AI. Menurut dia, tugas mungkin bisa selesai dengan cepat, tetapi proses belajar yang seharusnya mengasah kemampuan menulis justru berisiko terlewatkan.

        "Karena apa? karena saya tidak mau keahlian saya diganti oleh AI itu," ucap Saldi dalam talkshow Open House dan Ngopi Bareng #Courtizen Jilid V di Gedung I MK, Jakarta, Rabu (28/10/2026).

        Ia menekankan, penggunaan AI seharusnya tidak menghilangkan proses berpikir dan belajar yang menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas diri. Kemampuan tersebut dinilai penting agar generasi muda tetap dapat mengembangkan potensi dan bersaing di dunia pendidikan maupun dunia kerja.

        Saldi juga mengaku khawatir jika masyarakat semakin terbiasa mengandalkan AI untuk mendapatkan jawaban tanpa berusaha memahami persoalan secara mandiri. Ia menilai ketergantungan semacam itu dapat menjadi masalah ketika teknologi bukan lagi sekadar membantu pekerjaan, melainkan mengambil alih kemampuan penggunanya.

        "Saya termasuk orang yang khawatir dengan AI dan turunannya. Jangan-jangan nanti kita tidak lagi semuanya datang ke persidangan. Makanya, saya beranggapan sepanjang AI itu digunakan sebagai alat bantu dan tidak membunuh tiga hal tadi, salah sih 'fine' aja," kata Saldi.

        Baca Juga: Usulan Luhut soal Kerugian Negara Bukan Korupsi Disebut Bisa Lemahkan Astacita Prabowo

        Tiga kemampuan yang dimaksud adalah kebiasaan membaca, menulis, dan berkomunikasi dengan baik. Saldi tidak menolak penggunaan teknologi secara keseluruhan, tetapi mengingatkan agar kemudahan yang ditawarkan AI tidak membuat anak muda berhenti melatih kemampuan dasarnya.

        Ia juga menceritakan pengalaman seorang rekannya yang berprofesi sebagai dosen di Australia. Menurut penuturan Saldi, rekannya itu melakukan survei dengan membandingkan kelas yang menggunakan AI dan kelas yang belajar dengan metode manual.

        "Mereka melakukan survei, kelas yang dibedakan satu menggunakan AI dan manual, akhirnya terbukti yang manual jauh lebih memiliki kemampuan analitis, dibanding mahasiswa yang menggunakan AI dan sejenisnya," ungkapnya.

        Cerita tersebut menjadi salah satu contoh yang digunakan Saldi untuk menjelaskan kekhawatirannya terhadap penggunaan AI dalam pendidikan. Namun, ia tidak memaparkan rincian metodologi survei tersebut dalam kesempatan itu, sehingga hasilnya tidak serta-merta dapat digeneralisasi untuk semua mahasiswa atau penggunaan AI.

        Saldi menyampaikan pandangannya saat menjawab pertanyaan seorang mahasiswa dalam kegiatan yang digelar untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.

        Ia berpesan agar generasi muda tetap memegang kendali atas teknologi yang digunakan dan tidak membiarkan AI menggantikan proses belajar yang membentuk kemampuan mereka.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: