Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ini Alasan Indeks Tak Bisa Sampai Level 6.000

Ini Alasan Indeks Tak Bisa Sampai Level 6.000 Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Syailendra Capital menyatakan, pada awal tahun banyak yang memprediksikan indeks harga saham gabungan (IHSG) bisa menyentuh level 6.000 pada akhir tahun. Namun, hal tersebut tak dapat tercapai karena hingga saat ini saja IHSG masih berada di level 5.136.

Direktur sekaligus Chief Investment Officer PT Syailendra Capital, Cholis Baidowi mengatakan, pasar tidak memperkirakan bahwa Donald Trump yang akan menang dalam pemilihan umum Presiden Amerika Serikat (AS) sehingga pasar terkoreksi. Padahal pada saat pemilu AS level indeks berada di posisi 5.400, jika Hillary Clinton yang menang maka bisa tembus ke angka 5.500.

"Namun, ketika yang menang Trump maka orang mencoba untuk realistis karena ekspektasinya tidak terjadi sehingga market koreksi," ujarnya, di Jakarta, Selasa (29/11/2016).

Maka dari itu Ia memprediksikan IHSG Batu bisa yembus level 6.000 pada tahun 2017. Menurut Cholis, pertumbuhan indeks pada tahun depan akan ditopang oleh sentimen yang berasal dari dalam negeri. "IHSG tahun depan akan naik dengan posisi terendah 5.900 dan tertinggi 6.100," ungkapnya.

Chilis memandang, secara fundamental ekonomi domestik secara umum masih sangat kuat. Lalu, dari sisi defisit juga termanajemen. Jika kedua hal tersebut bisa dijaga dengan kinerja makro ekonomi yang bagus, maka level indeks tidak akan bereaksi terlalu negatif terhadap apa yang terjadi di luar penyebab fundamental ekonomi.

Sementara itu dari data ekonomi yang akan rilis seperti inflasi. Secara year to date (ytd) posisi inflasi saat ini menjadi yang paling terendah. Rendahnya inflasi menjadi sangat struktural karena ada perbaikan infrastruktur maupun distribusi barang. "Jadi apa yang terjadi pada masa-masa sebelumnya pelan-pelan sudah diobati dari sekarang. Pada 2017, kita juga tetap punya asumsi inflasi yang cukup rendah," tukasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Rahmat Patutie