Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Muara Angke, Muara Harapan Kebangkitan Nelayan Pinggiran

Muara Angke, Muara Harapan Kebangkitan Nelayan Pinggiran Kredit Foto: Antara/Rahmad
Warta Ekonomi, Jakarta -

Beberapa tahun silam, saya sempat mampir berkunjung ke kampung nelayan kerang hijau di Muara Angke. Tujuannya untuk melakukan survei kelayakan pemberian bantuan berupa pompa air untuk keperluan air bersih. Dasar pertimbangannya jelas, air di lingkungan kampung itu kotor dan tidak layak untuk dikonsumsi. Masyarakat di sana membeli air bersih dorongan atau pikulan.

Saat memasuki kawasan kampung itu, jalanan sangat becek dan dipenuhi kubangan air. Lalu ada bau genangan air yang amis dan anyir begitu menyengat, cukup membuat pusing. Melihat pemandangan itu, bukan hanya mengelus kepala, tetapi juga dada. Saya tidak mengira karena beberapa minggu sebelumnya sempat diajak teman makan malam di pusat kuliner Muara Angka, yang masih satu kawasan. Tapi suasananya lain. Jalan beraspal dan suasana cukup ramai.

"Saat itu, suasananya malam pak. Beda dengan pagi atau siang," jelas driver yang sebelumnya pernah membawa saya ke tempat itu.

Iseng-iseng saya tanya driver yang kebetulan orang asli Muara Angke. "Bang, kenapa dinamakan Muara Angke?" Muara Angke adalah wilayah hilir dan kuala dari Kali Angke. Kali atau sungai ini diperkirakan dinamai menurut nama seorang panglima perang Kerajaan Banten, yaitu Tubagus Angke.

Sekitar awal abad ke-16, Kerajaan Banten mengirim pasukan untuk membantu Kerajaan Demak yang sedang menggempur benteng Portugis di Sunda Kelapa. Sungai tempat pasukan Tubagus Angke bermarkas kemudian dikenal sebagai Kali Angke, dan daerah yang terletak di ujung sungai ini disebut Muara Angke. Dalam perkembangannya, Muara Angke terkenal sebagai tempat penjualan ikan laut segar dan ikan bakar di Jakarta serta restoran ikan bakar.

Selanjutnya, Muara Angke mulai berkembang sebagai kawasan pelabuhan perikanan tradisional dan sebagai kawasan kampung nelayan. Pada 1977 (tanggal 7 bulan 7 tahun 1977) diresmikan oleh Bapak Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta waktu itu. Pada 1978, di bawah pengelolaan Pemda DKI Jakarta, dibangun infrastruktur, dan semua kegiatan perikanan mulai dipusatkan di Muara Angke.

Muara Angke terbentuk dari interaksi nilai ruang histori, nilai ruang ekonomi, dan nilai ruang ekologi. Ketiganya saling terkait dan terikat satu sama lain. Nilai ruang menjadi ciri khas yang membedakan kawasan Muara Angke dengan kawasan lain.

Sambil mendengarkan penuturan driver, sebelum sampai di lokasi, saya melihat beberapa anak kecil berlarian melintasi jalanan yang digenangi air berwarna hitam pekat. Terenyuh rasanya melihat si anak yang enjoy dan tidak memperhatikan limbah air yang merendam kaki mereka. Si anak asyik saja bercengkrama, sambil sesekali mencipratkan air ke teman. Duh, inilah potret kelam lingkungan yang kurang menyediakan sarana bermain untuk mereka.

Tak ada yang menegur apalagi melarang si anak bermain di tempat yang rawan penyakit seperti penyakit kulit, diare, cacingan, atau penyakit lain. Semuanya seolah tak perduli, entah sudah kewalahan atau cuek dengan kondisi lingkungan yang tak kunjung berubah. Tengah asyik mengawasi pemandangan yang tak layak ini, tiba-tiba mobil berhenti. "Sudah sampai ditempat tujuan, Pak?"

Begitu turun dari mobil dan berjalan menuju lokasi, pemandangan berbeda lagi. Beberapa rumah keadaannya kurang layak huni. Driver yang juga sebagai penunjuk jalan memberitahu jika penghuni di kampung nelayan kerang hijau ini sebagian besar penduduk pendatang baru. Mereka berasal dari luar Jakarta untuk mengadu nasib sebagai nelayan. Tapi realita berkata lain, kondisi ekonomi tidak kunjung memberikan perubahan nasib justru semakin memperpuruk mereka.

Ketika sampai di lokasi, saya lihat tumpukan kerang hijau yang berserakan dan menggunung. Bau yang menyengat hasil cucian kerang hijau yang tergenang tidak menyurutkan keasyikan beberapa pekerja wanita separuh baya. Mereka terus sibuk mengupas kerang hijau dan memasukkan ke dalam sebuah ember yang berisi kerang. Peluh yang meleleh di wajah para emak yang berprofesi sebagai pekerja pengupas kerang itu sesekali diusap. Namun mereka tak peduli dan terus saja membiarkan lelehan itu. Mereka sudah terbiasa dengan keadaan sehari-hari.

Setiap hari, mereka pasrah panas atap seng membakar kulit mereka dan seolah dipersilakan menggoreng semangat kerja mereka agar survive sebagai nelayan pinggiran. Meskipun terkadang hasil jerih payah mereka tidak sebanding dengan upah yang diterima. Mereka tidak mempermasalahkan berapapun hasil dan upah. Mereka sudah cukup menerima nasib dari peran sebagai nelayan kerang hijau, meskipun hasilnya tidak menentu setiap hari.

Muara Angke telah menempa hidup mereka untuk tegar mengarungi nasib seperti mengarungi hasil tangkapan. Muara Angke telah menjadi muara nasib, tak peduli peruntungannya akan memberikan seberapapun hasilnya. Baginya, kebersamaan dengan para tetangga yang memiliki keseragaman pekerjaan cukup membuat hidup mereka bahagia sesuai porsi masing-masing yang diterima dan menjadi jatahnya.

Kini, ada hal berbeda di perkampungan nelayan kerang hijau di Muara Angke, Jakarta Utara. Jika empat tahun silam tempat ini sangat ramai dengan aktivitas merebus dan mengupas kerang hijau, sekarang suasana sangat jauh berbeda. Hanya beberapa tempat pengupasan saja yang masih beroperasi. Lainnya sudah hancur dan ambruk. Atap dari terpal sudah berlobang dan bekas perebusan tidak lagi terpakai, perkampungan ini menjadi sepi dari aktivitas warga.

Kondisi ini telah berjalan beberapa tahun terakhir. Menurut komunitas nelayan di sana, kehidupan nelayan tradisional termasuk nelayan kerang hijau seharusnya membaik dengan keberadaan proyek reklamasi. Terutama jika proyek reklamasi bisa menciptakan persepsi mampu menyejahterakan masyarakat nelayan. Namun, disadari atau tidak, kemajuan di Muara Angke terhalang oleh persepsi masyarakat terhadap pasar Muara Angke sebagai pasar tradisional yang kumuh, semrawut, becek, kotor, dan minimnya fasilitas seperti terbatasnya tempat parkir, tempat sampah yang bau dan kotor, lorong yang sempit, dan sebagainya.

Pencitraan negatif ini dikarenakan masih rendahnya kesadaran terhadap kedisiplinan pada aspek kebersihan dan ketertiban sehingga kurang memperhatikan pemeliharaan sarana fisik (Arief, 2009).

Muara Angke tidak selamanya hanya menyimpan kisah pilu. Ada pula prospek yang diciptakan, yaitu menjadi akses utama menuju Pulau Seribu, serta menjadi kawasan wisata alternatif. Di sana tersedia fasilitas yang lengkap, di antaranya: (1) Pondok Kemah yang menyatu dengan alam dan paling asyik menikmati gemerlap bintang di tengah hutan mangrove. (2) Kantin Lesehan yang memiliki spot Instagramable berupa payung-payung yang digantung di langit-langit. (3). Jembatan Gantung dan Pengamat Burung yang bisa menjadi objek foto menarik.

(4) Penanaman Bibit Mangrove yang bibitnya bisa ditanam pengunjung dan disediakan oleh pengelola. (5) Wisata air di Hutan Mangrove, yaitu menyusuri mangrove dengan wahana wisata air. (6) Taman Bermain Anak di Hutan Mangrove, berupa jembatan gantung yang menantang dan menarik serta taman bermain anak mini yang terdiri atas tiga wahana. (7) Jalur Bersepeda untuk menyusuri hutan mangrove seluas 99,82 hektare.

Selanjutnya, sebagai objek wisata kuliner, Jakarta tidak hanya menyimpan destinasi wisata kuliner unik yang menyajikan tempat bernuansa ala modern dan glamor, namun di sudut pinggiran Ibukota Indonesia ini juga memiliki beragam tempat wisata kuliner unik yang menyimpan nilai sejarah, namun tetap mempertahankan tradisi masyarakat nelayan tradisionalnya yang menarik dikunjungi yaitu di Pasar Ikan Muara Angke Jakarta.

Untuk menjadi negara maju, Walt Whitman Rostow (1959:1) dalam artikel The Stages of Economic Growth, sebuah negara harus melalui lima tahap, yaitu dari masyarakat statis atau tradisional, kemudian melalui tahap prasyarat, lalu lepas landas, kemudian tahap berdikari, dan yang terakhir menjadi masyarakat adil dan makmur.

Bagaimana dengan pembangunan di Muara Angke ke depannya? Sepertinya pembangunannya ke depan mau tidak mau harus dibarengi dengan perubahan ekonomi masyarakat. Pembangunan yang dilakukan harus bisa mengentaskan masyarakat Muara Angke dari kemiskinan. Dengan pembangunan yang berbasis kesejahteraan proses transformasi ekonomi harus dilakukan melalui pembangunan ekonomi yang dimulai dari kawasan pinggiran.

Memperkuat ekonomi pinggiran dilakukan agar menjadi kompetitif dalam ekonomi global. Usaha yang dapat dilakukan antara lain dengan memfasilitasi kegiatan ekonomi di suatu kawasan yang terlihat berpotensi untuk ditata lebih baik agar dapat meningkatkan perputaran ekonomi. Salah satunya adalah kawasan Muara Angke yang terletak di wilayah kota Jakarta Utara ini.

Beberapa hal terkait dengan Muara Angke :

1. Diperlukan penataan ulang dan pengembangan fasilitas pasar di Muara Angke yang bertujuan sebagai tempat yang layak bagi terjadinya transaksi ekonomi yang sehat dan sebagai sentra grosir ikan segar, retail atau eceran, dan tetap dilengkapi dengan restoran;

2. Pelabuhan Muara Angke selama ini berkembang dengan kondisi seadanya. Mengingat posisinya yang strategis dan memiliki potensi ekonomi yang tinggi, perlu dikelola secara maksimal dan profesional agar mampu meningkatkan perekonomian nelayan setempat, dan juga wisatawan yang ingin berkunjung ke Kepulauan Seribu;

3. Potensi wisata di Muara Angke perlu dikembangkan dan ditonjolkan, termasuk pusat kuliner baru yang dibangun di laut.

Baca Juga: Adira Finance, MUF Hingga FIFGroup Siap Pacu Pembiayaan Kendaraan Listrik di 2023

Penulis: Dwi Mukti Wibowo, Pemerhati masalah ekonomi, sosial, dan kemanusiaan

Editor: Cahyo Prayogo

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: