Beni Syarifudin: Dari OB Jadi CEO Trawlbens

Beni Syarifudin: Dari OB Jadi CEO Trawlbens Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Siapa sangka mantan Cleaning Service di Sarinah ini kini sukses menjadi pegusaha kargo, Beni Syarifudin kini menjadi sosok yang diperhitungkan di dunia kargo.

Founder dan CEO startup kargo Trawlbens, Beni Syarifudin menceritakan awal perjalanannya di Ibu Kota tahun 2004. Setelah selasi sekolah STM, pria berdarah jawa asal Lampung ini datang ke Jakarta karena pamanya menawarkan pekerjaan yang bisa diterimanya yakni Cleaning Service di Sarinah. Karena ketidak tahuanya ia pun menerima tawaran itu. "Saya pikir akan bekerja sebagai tukang service ga tahunya jadi tukang sapu dan bersih-bersih atau office boy (OB)," kenangnya sambil tertawa. 

Setelah 11 bulan bekerja sebagai Cleaning Service ia pun memutuskan untuk berhenti. "Saya ini orang susah, saya pikir kalau tetap di sini nasib saya tidak akan berubah," kata Beni saat ditemui di Trawlbens Centre, Jakarta, Selasa (15/12).

Setelah berhenti bekerja sebagai Cleaning Service ia bekerja menjadi sales di perusahaan Singapura hingga posisi manager. Tapi lagi-lagi karena perusahaan tidak mensupport ide-idenya lalu ia kembali menganggur. 

"Ditengah mengaggur saya bertemu mantan anak buah di perusahaan Singapura sebelumnya. Dia kerja di Telkomsel. Saya ditawari untuk menjadi sales Kartu Halo, saya join karena melihat ada peluang bisa jadi usaha,” ujarnya.

Disinilah awal breakthrough Beni Syarifudin menjadi pengusaha. Dengan segala keterbatasan Ia memberanikan diri membuka Marketing Agency pada 2006. Dengan menyewa ruang kecil di samping warteg (Warung Tegal) di Matraman, Jakarta.

“Tidak mudah memang, karena kantor saya tidak representatif, jelek. Jadi saat merekrut sales, setiap orang yang melihat kantor saya pasti langsung balik badan. Namun saya yakin dari 50 orang yang mendaftar, satu orang di antaranya pasti sangat membutuhkan pekerjaan dan mau bekerja dengan saya. Terbukti akhirnya saya mendapatkan 10 karyawan. Kita berjalan dan banyak belajar dari banyak halangan dan rintangan. Kita pun sudah bisa pindah kantor yang lebih baik dengan menyewa ruko. 

Di umurnya yang masih 25 tahun kala itu, Beni kemudian melebarkan sayap bisnisnya menjadi dealer Astro TV. Melihat peluang keuntungan yang lebih besar ia lantas fokus di Astro TV.

“Saya tergiur fokus di Astro, karena satu pelanggan dapat Rp400 ribu. Saya rekrut SPG (sales promotion girl) dan  buka pameran di mall. Tapi belakangan malah jadi masalah, setiap pelanggan yang berhenti berlangganan sebelum 6 bulan saya harus ganti. Bagaimana saya bisa bayar semuanya. Saya bangkrut, akhirnya tutup. Saya coba usah lain bangkrut juga, tapi saya tidak putus asa," ujar dia.

"Saya pernah tidak makan sehari semalam, saya terkapar, apapun yang terjadi ya terjadi, bertawakal saja."

Beni kemudian memutuskan terjun ke dunia pengiriman. Dia mempelajari seluk beluk dunia tersebut hingga pada 2009 memberanikan diri membangun usaha sendiri.

“Saya bangun Sace Express, idenya itu bagaimana barang-barang milik seseorang yang tertinggal di rumah, di kantor,  di Hotel bisa diambil tanpa dia harus balik. Kemudian orang yang mau kirim barang di Jabodetabek dalam hitungan jam sampai, jasa COD, beli makanan. Saat itu belum ada jasa yang seperti itu,” jelas Beni.

Menurutnya, setiap usaha rintisan yang inovatif pasti banyak yang meniru. Alhasil tidak lama setelah membuka Sace Express, puluhan pengusaha lain mengikutinya.

Pada tahun tersebut belum memakai aplikasi, masih menggunakan SMS. Salah satu pesaingnya yang masih bertahan hingga kini yaitu GoJek. Bahkan, menurutnya, pada 2011 kurir Sace Express lebih populer dari GoJek.

“2014 saya sudah terlalu pusing, permasalahan banyak dijasa kurir karena saya belum mengenal teknologi. Itulah beda saya dengan GoJek. Nadiem wawasan lebih luas, modal ada, jaringan luas, dia juga alumni luar negeri. sementara saya temannya dengan kurir saja. itulah kekalahan saya,” ungkapnya.

Kemuadian Beni mencoba melirik dunia kargo saya bekerja dan belajar mempelajari semuanya. Pelajaran yang paling berharga yang dia dapat bahwa bisnis kargo tidaklah memerlukan modal besar namun yang diperlukaan adalah jaringan. 

"Usaha kargo itu soal jaringan bukan berdiri sendiri. Kirim barang dari Jakarta ke Bali bukan berarti truk saya dari Jakarta jalan ke Bali,” kata dia.

Dia kemudian memutuskan untuk membuat Klik Logistik bermodalkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki akhirnya bisa berjalan dengan lancar hingga memiliki karyawan 100 orang lebih,” kata  Ketua IPCN (Ikatan Pengusaha Cargo Nusantara) ini. 

Pada 2020, Beni kemudian membuat startup kargo pertama di Indonesia bernama TrawlBens. Usahanya mempunyai visi misi yang lebih luas lagi yaitu menjadi mesin penggerak ekonomi Indonesia melalui revolusi logistik.

“TrawlBens akan menghubungkan kegiatan bisnis seluruh masyarakat di Indonesia secara luas, aman, efektif dan efisien untuk masa depan Indonesia yang lebih baik,” ujarnya.

Beni menjelaskan untuk memulai usaha kargo sendiri tidaklah mudah. Untuk itu dia membuat sistem supaya orang yang awam-pun bisa menjalankan usaha tersebut melalui TrawlBens.

Selain sistem yang sudah terbentuk, tarif pun dipatok lebih murah dibandingkan dengan jasa logistik lainnya, TrawlBens juga memiliki produk yang lebih lengkap.

“Produk kami juga bervariasi, kami bisa kirim barang ukuran kecil hingga yang besar,  kirim mobil, kontainer, bisa urus pindahan (jasa mover). kami bisa kirim kapal hingga pesawat. Kami membuat aplikasi dengan segala kelengkapannya. Apapun ada, itulah lelebihan kami, Super Logistics App,” katanya.

Untuk menjadi besar saat ini Beni fokus mengembangkan mitra bisnis di Jabodetabek yang saat ini sudah ada 60 mitra. Seiring waktu baru melebar ke seluruh Indonesia.

Di samping itu, Beni mengungkapkan  TrawlBens akan turut memajukan industri UKM. Menurutnya, sentra industri UKM di daerah akan sulit tumbuh jika menjual barang dengan kuantitas sedikit karena ongkos kirimnya akan mahal. disinilah peran TrawlBens akan mensuport UMKM dengan onkos kirim yang murah. 

“Itu konsen kami. Makanya kami sangat percaya diri, TrawlBens akan menjadi roda penggerak perekonomian Indonesia,” pungkasnya.

Investasi terbaik ialah investasi leher ke atas. Yuk, tingkatkan kemampuan dan keterampilan diri Anda dengan mengikuti kelas-kelas di WE Academy. Daftar di sini.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini