Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Peningkatan Campuran Sawit untuk BBN Tak Butuh Perluasan Lahan

Peningkatan Campuran Sawit untuk BBN Tak Butuh Perluasan Lahan Kredit Foto: Antara/Syifa Yulinnas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sejak Januari 2020 hingga saat ini, pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan B30 atau campuran 30 persen minyak sawit dengan 70 persen solar. Tidak hanya itu, pemerintah bersama pelaku industri sawit juga terus menargetkan peningkatan campuran minyak sawit ke dalam bahan bakar fosil. 

Terkait hal ini, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), Paulus Tjakrawan mengatakan, implementasi B40 hingga B50 di Indonesia dapat dilakukan tanpa harus menambah areal perkebunan sawit. 

Baca Juga: Tahun 2022, Green Diesel dengan 100 Persen Sawit Ditargetkan Bisa Produksi

Dijelaskan Paulus, dari produksi minyak sawit 51,58 juta ton tahun 2020, Indonesia sudah melakukan ekspor sebesar 66 persen dan hanya 34 persen dikonsumsi dalam negeri. Jika dikalkulasikan, dari jumlah minyak sawit yang dihasilkan tahun 2020, baru sebanyak 7,22 juta ton atau 14 persen yang digunakan untuk bahan campuran B30. Sementara yang dikonsumsi dalam negeri hanya 1,69 juta ton yang diperuntukkan industri oleokimia dan 8,42 juta ton untuk bahan industri makanan olahan.

“Kalau kita harus mengurangi ekspor, akan kita kurangi karena kebutuhan dalam negeri harus didahulukan. Jadi lebih baik kita pakai minyak kelapa sawit ekspor untuk biodiesel daripada kita harus mengimpor BBM,” ucap Paulus. 

Sementara pada 2021 ini, Paulus memperkirakan penggunaan minyak sawit dalam negeri meningkat menjadi sekitar 15,2 persen dari total produksi minyak kelapa sawit nasional. 

Menurutnya, saat ini, pemerintah, peneliti, dan pelaku usaha juga tengah melakukan berbagai penelitian untuk mendiversifikasi campuran bahan bakar nabati (BBN) agar tidak hanya berasal dari minyak kelapa sawit. Bahan campuran tersebut antara lain minyak nabati yang berasal dari tebu, singkong, mikroalgae, dan aren. 

“Banyak penelitian-penelitian yang sekarang sedang berjalan, baik Pertamina dan pelaku usaha lain. Kami selalu kerjasama untuk penelitian-penelitian ini,” kata Paulus. 

Baca Juga: Kominfo Ajak Masyarakat Waspadai Jeratan Investasi dan Pinjol Ilegal, Begini Ciri-cirinya

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ellisa Agri Elfadina
Editor: Alfi Dinilhaq

Bagikan Artikel: