Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Milisi Myanmar Kubur Sisa-sisa Lebih dari 30 Warga Sipil yang Tewas dengan Tubuh Dibakar

Milisi Myanmar Kubur Sisa-sisa Lebih dari 30 Warga Sipil yang Tewas dengan Tubuh Dibakar Kredit Foto: Getty Images
Warta Ekonomi, Yangon -

Sebuah kelompok milisi Myanmar telah mengubur sisa-sisa lebih dari 30 orang yang tewas dengan tubuh dibakar pada Kamis (30/12/2021) waktu setempat. Sebelumnya Dewan Keamanan PBB menyerukan pertanggungjawaban dan segera diakhirinya kekerasan di negara itu.

"Kami mengubur setiap mayat yang kami temukan di tempat kejadian," kata seorang komandan Pasukan Pertahanan Nasional Karenni (KNDF), salah satu pasukan sipil terbesar yang dibentuk untuk menentang kudeta militer 1 Februari.

Baca Juga: Bikin Bergidik! Dari Puluhan Warga Sipil yang Dibakar Junta Myanmar Ternyata Ada...

Foto-foto yang diunggah di media sosial menunjukkan anggota KNDF mengubur jenazah di kuburan yang dilapisi dengan balok beton. Bunga-bunga berserakan di atas makam dan lilin dinyalakan di samping makam.

Komandan, yang menolak disebutkan namanya karena alasan keamanan mengatakan, meskipun sulit untuk mengidentifikasi mayat yang dikuburkan, dia yakin mereka termasuk staf Save the Children.

Aktivis oposisi menyalahkan tentara Myanmar atas serangan 24 Desember di dekat desa Mo So di Negara Bagian Kayah. Dua staf Save the Children turut menjadi korban atas serangan biadab tersebut.

Seorang juru bicara junta belum mengomentari serangan tersebut, namun media pemerintah di Myanmar yang dikelola militer sebelumnya melaporkan bahwa tentara telah menembak dan membunuh sejumlah teroris dengan senjata di desa tersebut.

Komunitas internasional telah menyatakan keterkejutannya atas serangan itu. Kedutaan AS di Myanmar menggambarkannya sebagai "biadab".

Dalam sebuah pernyataan pers yang diterbitkan pada Rabu, Dewan Keamanan PBB mengatakan anggotanya mengutuk pembunuhan yang dilaporkan terhadap sedikitnya 35 orang, termasuk empat anak dan dua staf Save the Children.

Dewan Keamanan PBB juga menekankan perlunya memastikan akuntabilitas atas tindakan tersebut dan menyerukan penghentian segera semua kekerasan dan menekankan pentingnya menghormati hak asasi manusia dan memastikan keselamatan warga sipil.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemerintah terpilih pemenang Hadiah Nobel Aung San Suu Kyi.

Beberapa penentang militer telah mengangkat senjata, kadang-kadang bergabung dengan gerilyawan etnis minoritas yang telah bertahun-tahun memerangi pemerintah untuk penentuan nasib sendiri di berbagai bagian Myanmar, termasuk Negara Bagian Kayah di timur.

Menurut penghitungan oleh kelompok hak-hak Asosiasi untuk Bantuan Tahanan Politik, sejak kudeta, lebih dari 1.300 orang telah dibunuh oleh pasukan keamanan dan lebih dari 11.000 telah dipenjara. Militer membantah jumlah korban tewas kelompok itu.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan