Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

PDIP Bukan Oligarki yang Bersembunyi Dibalik Istana, Ternyata Oh Ternyata Oligarki Itu . . .

PDIP Bukan Oligarki yang Bersembunyi Dibalik Istana, Ternyata Oh Ternyata Oligarki Itu . . . Kredit Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Kedai Kopi Kunto Adi Wibowo blak-blakan. Dia tegas tolak PDIP disebut oligarki.

Itu muncul setelah ada pernyataan Presiden ke-5 Megawati yang blak-blakan menolak perpanjangan masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ini membuat publik kebingungan. Maklum, masih banyak yang menganggap bahwa PDIP adalah oligarki yang bersembunyi di balik Istana.

Baca Juga: Ngamuk Sengamuk-ngamuknya, Amien Rais Teriak Oligarki Bedebah, Ngawur, Korbankan Rakyat!

Hal tersebut lantas dibantah Direktur Eksekutif Lembaga Survei Kedai Kopi Kunto Adi Wibowo. Menurutnya PDIP bukan seperti yang publik bayangkan.

"Terkait pemikiran masyarakat soal PDIP sebagai oligarki berkedok partai. Menurut saya, masyarakat juga harus disiplin dalam definisi. Karena PDIP memang jelas partai politik," ujar Kunto, Sabtu (15/1).

Menurutnya, PDIP merupakan institusi resmi dalam sebuah tatanan negara demokratis yang bertujuan untuk menghimpun kekuatan politik.

Baca Juga: Seramnya Omongan Gatot Nurmantyo, Ungkap Adanya Konspirasi Oligarki, Ngeri!

"Memang betul kalau partai politik menghimpun dan ingin meraih kekuasaan, tapi beda dengan oligarki yang tidak memiliki institusi secara jelas," ucapnya.

Dirinya juga menolak apabila PDIP disebut-sebut sebagai oligarki yang menggunakan kekuatan untuk mengatur tanah air.

"Oligarki itu perorangan, badan-badan, atau organisasi yang ada di luar sistem demokrasi ini dan kemudian menyetir demokrasi, pemerintahan, dan politik kita," ucap Kunto.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan GenPI. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab GenPI.

Editor: Annisa Nurfitriyani

Bagikan Artikel:

Video Pilihan