Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Jangan Maksain Airlangga buat Jadi Capres, Golkar Bisa Ikut Kena Getahnya

Jangan Maksain Airlangga buat Jadi Capres, Golkar Bisa Ikut Kena Getahnya Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Indonesia Ray Rangkuti menyarankan agar Partai Golkar tidak memaksa Airlangga Hartarto untuk diusung menjadi capres di Pilpres 2024 mendatang. Pendapat tersebut sejalan dengan koreksi Gerakan Muda Partai Golkar (GMPG).

"Golkar jangan terlalu memaksa mencalonkan Airlangga sebagai calon presiden dengan elektabilitasnya yang seperti itu. Jadi harus terbuka untuk berbagai kemungkinan," ujar Ray dalam keterangannya, Senin (17/1).

Ray menuturkan elektabilitas Airlangga sangat sulit didongkrak naik. Pasalnya nihil momentum yang dapat membuat publik bersimpati Menteri Koordinator Bidang Perekonomian tersebut."Sebab sejauh ini sudah agak sulit menaikan elektabilitas Pak Airlangga

Karena tidak ada satu peristiwa yang membuat beliau ini dikenal, di Menteri Koordinator di Bidang Ekonomi, artinya sulit menaikan elektabilitas beliau," katanya.

Ray berujar, baliho ditebar Airlangga juga tidak terlalu signifikan menaikan elektabilitas. Padahal dia dituntut bersaing dengan tokoh-tokoh lain untuk menjadi calon presiden (capres).

Ray menilai Partai Golkar terus memaksa mengusung Airlangga Hartarto sebagai capres dapat berimbas pada partai berlogo pohon beringin ini. Pasalnya publik tidak tertarik terhadap capres yang diusung Golkar.

"Ya imbasnya bisa ke elektabilitas partai politiknya. Jadi partai politiknya jadi kurang diminati publik jika misalnya mencalonkan Airlangga sebagai calon presiden," tuturnya.

Karena itu, Ray mengatakan Airlangga harus memilih satu fokusnya saat ini. Jika tetap menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian maka akan sulit untuk mengejar ketertinggalannya dalam hal elektabilitas.

"Saya kira kalau Airlangga rangkap jabatan sebagai ketua partai dan menteri agak sulit. Karenanya tinggal dipilih saja meninggalkan yang mana supaya beliau bisa lebih fleksibel, karena kalau sekarang mau tidak mau harus mengurusi kementerian," imbuhnya.

Editor: Ferry Hidayat

Bagikan Artikel:

Video Pilihan