Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Dosen Departemen Agribisnis IPB University Beberkan Penyebab Melonjaknya Harga Kedelai, Ternyata...

Dosen Departemen Agribisnis IPB University Beberkan Penyebab Melonjaknya Harga Kedelai, Ternyata... Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Melonjaknya harga kedelai mengakibatkan para pengrajin tahu tempe harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk produksi. Di sisi lain, harga jual tidak mengalami kenaikan sama sekali.

Keputusan para pengrajin tahu tempe untuk mogok/demo massal merupakan bentuk protes kepada pemerintah yang tidak bisa menjamin ketersediaan kedelai dengan harga yang murah (terjangkau). Idealnya, harga kedelai antara Rp8.000 – Rp9.000 per kilogram.

Baca Juga: Pengrajin Tahu di Aceh Terpaksa Kurangi Produksi Hingga 50 Persen Imbas Tingginya Harga Kedelai

“Saat ini harga kedelai naik dari 10 ribu hingga 11-13 ribu per kilonya. Bahkan pernah sampai 15 ribu, sehingga puncaknya ramai dibahas media massa,” ujar Dosen IPB University dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), Dr Feryanto. 

Menurutnya, penyebab utama kenaikan harga kedelai adalah naiknya harga komoditas ini di dunia akibat suplai yang terganggu. Hal ini terjadi akibat kondisi cuaca ekstrim yang mengganggu budidaya kedelai di negara produsen utama (Brazil dan Argentina). Prediksi awal, mereka mampu menyuplai 140 juta ton, namun ternyata hanya 125 juta ton yang dapat disediakan.

Dr Fery menyampaikan dari sisi demand, permintaan kedelai Indonesia rata-rata per tahun setara dengan tiga juta ton. Angka ini bisa lebih dan akan terus meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk. Begitu juga industri (berbasis kedelai) yang mengalami pertumbuhan. Dua faktor ini mendorong meningkatnya permintaan kedelai dalam negeri.

“Dari sisi lain, cadangan kedelai nasional diperkirakan hanya 400 ribu ton (per Februari 2022). Ini hanya untuk kebutuhan 1-1,5 bulan saja,” jelasnya.  Sementara itu, lanjutnya, dilihat dari sisi suplai, produksi kedelai lokal Indonesia ada di kisaran 0,8 – 0,9 juta ton atau 20 – 30 persen kebutuhan nasional. Produktivitas yang rendah (hanya rata 1-1,2 ton/hekatr) menyebabkan jumlah produksi kedelai sulit ditingkatkan. Di samping keterbatasan lahan, kedelai merupakan tanaman sub tropis, sehingga kondisi ini menjadikan Indonesia mengalami ketergantungan dengan kedelai impor.

“Kenaikan inflasi di Amerika juga mendorong harga-harga naik, termasuk upah tenaga kerja di sektor pertanian. Sehingga Amerika sebagai produsen utama kedelai juga harus menaikkan harga jual kedelainya,” ujarnya.

Pada kondisi lain, katanya, pulihnya ekonomi China mendorong aktivitas industri dan ekonomi, termasuk industri makanan dan juga untuk ternak tumbuh. Permintaan kedelai sebagai bahan makanan dan pakan sangat besar, sehingga sejak tahun 2021-2022, China melakukan rush buying (pembelian besar-besaran).

“Dari data kebutuhan kedelai China per tahun adalah sekitar 75 juta ton. Angka ini jauh lebih besar dari kebutuhan impor kedelai Indonesia sebesar dua juta ton,” ujarnya.

Menurutnya, kedelai lokal saat ini bisa menjadi solusi sementara. Namun ketersediaan kedelai lokal yang tidak konsisten dari petani/kelompok tani/distributor juga menjadi kendala. Bagi pengrajin tahu tempe, kepastian dan ketersediaan kedelai dalam jumlah tertentu sangat diperlukan.

“Ditambah lagi kesulitan logistik atau transportasi (kapal) juga menjadi masalah. Kombinasi ini yang menyebabkan mengapa harga kedelai naik dan menjadi beban bagi pengarajin tahu tempe,” tandasnya.

Editor: Alfi Dinilhaq

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan