Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Raksasa Drone China Tangguhkan Bisnisnya di Rusia dan Ukraina

Raksasa Drone China Tangguhkan Bisnisnya di Rusia dan Ukraina Kredit Foto: Unsplash/Ian Usher
Warta Ekonomi, Beijing -

Raksasa drone China, DJI Technology Co akan menangguhkan bisnisnya di Rusia dan Ukraina untuk sementara. Penangguhan ini bertujuan untuk memastikan produknya tidak digunakan dalam pertempuran.

DJI Technology adalah perusahaan besar China pertama yang menghentikan penjualan di Rusia. Seorang juru bicara DJI mengatakan, penangguhan bisnisnya di Rusia dan Ukraina bukan bertujuan untuk menyatakan sikap tentang negara mana pun, tetapi untuk menegaskan prinsip-prinsip perusahaan.  

Baca Juga: Pentagon Kembangkan Drone Hantu Khusus untuk Ukraina

"Kami tidak mau drone kami menyebabkan kerusakan, dan kami untuk sementara menangguhkan penjualan di negara-negara ini untuk membantu memastikan tidak ada yang menggunakan drone kami dalam pertempuran," ujar pernyataan DJI.

Seorang perwakilan perusahaan mengatakan, bulan lalu sebuah video  menunjukkan militer Rusia menggunakan produk DJI. Tetapi perusahaan belum dapat mengonfirmasi video itu, dan perusahaan tidak memiliki kendali atas penggunaan produknya.  

Sebelumnya, pejabat dan warga Ukraina menuduh DJI membocorkan data militer Ukraina ke Rusia. Tuduhan ini dibantah oleh perusahaan. Sejauh ini, perusahaan-perusahaan China tetap beroperasi di Rusia maupun Ukraina, sejalan dengan sikap Beijing untuk menahan diri dari kritik terhadap konflik tersebut.

DJI tidak merilis informasi keuangan, tetapi firma riset Drone Analyst memperkirakan bahwa perusahaan tersebut memiliki pendapatan perangkat keras sebesar 2,9 miliar dolar AS pada 2020.

Penarikan perusahaan China berisiko mendapat reaksi balik dari publik Beijing.  Pada Februari, raksasa ride-hailing Didi Global membatalkan keputusan untuk meninggalkan Rusia dan Kazakhstan, setelah pengguna media sosial domestik menuduhnya menyerah pada tekanan AS.

Sementara perusahaan telekomunikasi Huawei Technologies juga berada di bawah pengawasan apakah mereka berencana untuk tetap melanjutkan bisnisnya di Rusia.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan