Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Ditolak Masuk Singapura, Muncul Dugaan: Ada Intelijen Hitam yang Memfitnah UAS

Ditolak Masuk Singapura, Muncul Dugaan: Ada Intelijen Hitam yang Memfitnah UAS Kredit Foto: Instagram/Ust Abdul Somad
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sekretaris Dewan Syuro Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif menyoroti alasan Kementerian Dalam Negeri Singapura yang menolak rombongan Ustaz Abdul Somad (UAS) berkunjung ke negaranya.

Slamet menduga ada pihak-pihak kotor yang sengaja menjelekkan nama UAS di sana.

Baca Juga: Mantan Pangkostrad Tulis Kalimat yang Ditujukan ke UAS, Bunyinya...

"Kami menduga ada intelijen hitam yang memfitnah UAS kepada Pemerintah Singapura dengan info-info negatif dan sesat," ujar Slamet kepada GenPI.co, Rabu (18/5).

Slamet mengatakan bahwa pihaknya akan segera melayangkan surat kepada Dubes Singapura di Indonesia.

"Singapura enggak mungkin mengusir UAS jika tidak mendapat info-info buruk yang sumbernya dari dalam negeri," katanya.

Slamet menyebut ada motif tertentu di balik dugaan intelijen hitam yang terlibat dalam insiden deportasi UAS. "Ya, menggagalkan dakwah UAS tujuannya. Selama ini sudah sering terjadi pembubaran pengajian hingga penolakan dai yang dianggap bukan kelompok mereka," ucapnya.

Pentolan 212 itu menyayangkan sikap Singapura terhadap UAS. Slamet menegaskan UAS bukan koruptor, teroris, DPO, atau narapidana sehingga tak pantas diperlakukan demikian.

Sebelumnya, Kemendagri Singapura buka suara soal alasan menolak kunjungan UAS ke negaranya. Dalam situs resminya, ternyata khotbah UAS tentang bom bunuh diri dalam konteks konflik Israel-Palestina disorot Pemerintah Singapura.

Mereka menyebut UAS penceramah ekstremis dan mengajarkan segregasi yang tidak dapat diterima masyarakat multiras dan multiagama Singapura.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan GenPI. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab GenPI.

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Bagikan Artikel:

Video Pilihan