Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Hadapi Dinamika Tantangan Global, Sri Mulyani Optimis Pemerintah Mampu Bangkitkan Aktivitas Ekonomi

Hadapi Dinamika Tantangan Global, Sri Mulyani Optimis Pemerintah Mampu Bangkitkan Aktivitas Ekonomi Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa APBN sebagai shock absorber mampu melindungi masyarakat dan mendukung pemulihan ekonomi di tengah peningkatan risiko global yang berdampak pada ekonomi nasional.

Sri Mulyani menjelaskan, saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada dinamika dan tantangan global yang cukup berat. Tantangan tersebut antara lain tingginya harga energi dan harga pangan, ketidakpastian pandemi Covid-19 dan variannya, isu perubahan iklim, normalisasi kebijakan keuangan dengan naiknya suku bunga negara maju, disrupsi rantai pasok, hingga kenaikan inflasi global.

Baca Juga: Terkait Program Subsidi Energi, Demokrat Minta Kemenkeu Tinjau Ulang Kebijakan Minyak Goreng

"Berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam melakukan penanganan Covid-19 dan dampaknya tersebut telah mampu membangkitkan aktivitas ekonomi domestik," ujar Sri Mulyani dalam Sidang Paripurna DPR RI, Selasa (24/5/2022).

Di sisi lain, adanya konflik Rusia-Ukraina juga sangat memengaruhi geopolitik dunia dan menimbulkan ancaman krisis energi dan krisis pangan secara global sehingga dapat berpengaruh terhadap upaya untuk melakukan percepatan pemulihan ekonomi nasional.

Berbagai tantangan tersebut memberikan tekanan pada perekonomian nasional dan masyarakat sehingga APBN melakukan peran shock absorber melalui peningkatan belanja subsidi, kompensasi, dan bantuan sosial untuk mengendalikan inflasi, menjaga daya beli masyarakat, serta menjaga momentum pemulihan ekonomi.

Sri Mulyani menyebut, implementasi berbagai kebijakan makro fiskal melalui APBN yang responsif dan fleksibel, serta sinergi yang kuat dengan kebijakan moneter dan sektor keuangan yang akomodatif telah menunjukkan hasil yang positif.

"Ekonomi Indonesia mampu tumbuh di kisaran 5,01% pada Triwulan I-2022, lebih baik daripada Tiongkok 4,8%, Jerman 3,7%, Korea Selatan 3,1%, dan Singapura 3,4%," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia turut menyebut pertumbuhan yang kuat juga didukung oleh stabilnya inflasi yang tercatat sebesar 0,95% (month to month/mtm) dan 3,47% (year on year/yoy) pada April 2022. Angka tersebut masih dalam rentang target 3±1% (yoy) di tengah kenaikan harga komoditas pangan dan energi dan kenaikan inflasi di beberapa negara.

Memperhatikan bahwa proses pemulihan ekonomi sedang berlangsung, tetapi tantangan global masih sangat dinamis, Pemerintah perlu melakukan berbagai kebijakan yang komprehensif, terutama untuk dapat memulihkan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Dengan melakukan perluasan lapangan kerja guna mengurangi pengangguran, baik dalam masa penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihannya, serta transisi dari pandemi ke endemi," ujarnya.

Penulis: Martyasari Rizky
Editor: Puri Mei Setyaningrum

Bagikan Artikel:

Video Pilihan