Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Heran Ribut-Ribut Rendang Babi, Habib Hafidz Alattas Kasih Teguran Keras: Mengapa Kita Gusar?

Heran Ribut-Ribut Rendang Babi, Habib Hafidz Alattas Kasih Teguran Keras: Mengapa Kita Gusar? Kredit Foto: Unsplash/Bawah Reserve
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sekjen Majelis Hikmah Alawiyah (MAHYA), Habib Hafidz Alattas, angkat suara terkait ramainya kecaman terhadap restoran padang bernama Babiambo yang menjual menu rendang berbahan babi.

Menurutnya, warga nonmuslim berhak mengolah makanan mereka dengan cara apapun sesuai selera mereka. Seharusnya, pemeluk Islam berterima kasih karena si pemilik resto mencantumkan label nonhalal pada usahanya.

Baca Juga: Viral Restoran Padang Jual Rendang Babi, Wagub Ariza Bakal Sidak: Masyarakat Mohon Masukannya

"Teman2 non-muslim berhak mengolah makanan mrk dgn cara apapun sesuai selera mereka. Harusnya kita terimakasih yg punya resto sdh ngasih label 'Non-Halal', mengapa kita gusar?' cuit Hafidz Allatas di Twitter, dilansir pada Senin (13/6/2022).

Lagian, kata dia, resto tersebut sudah tak beroperasi sejak tahun 2020 lalu. "Saya tahu resto sdh tutup, apa salah mereka?" katanya.

Hafidz Allatas lantas menjabarkan fakta bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk Islam terbesar yang paling banyak mengkonsumsi daging babi.

"Tahukah kalian Indonesia adalah negara berpenduduk Islam terbesar yg paling banyak mengkonsumsi daging babi: FAKTA," tegasnya.

"Temen2 non-muslim di Indonesia jumlahnya sekitar 30 juta. Lumayan banyak ya. Menurut FAO, Indonesia menghasilkan 8,54 juta Babi di tahun 2018," bebernya lagi.

Ia mengatakan, negara pertama dengan populasi muslim terbesar di dunia yang memiliki produktivitas babi yang tinggi karena besarnya bisnis dan konsumsi penduduk nonmuslimnya.

"Mau jualan di toko, di resto, dimasak apa aja asal labeling jelas selama ini ga masalah. Karena ini, Indonesia dipuji dunia," pungkasnya.

Sebelumnya, Ustaz Hilmi mengatakan jika restoran padang gunakan menu babi tersebut sudah melampaui batas. Sebab, masakan rendang adalah khas Minang. Sementara, Minang identik dengan Islam.

"Menurut saya ini sudah melampaui batas. Warga Minang teguh dengan prinsip: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah," kata Ustaz Hilmi lewat cuitan di Twitter-nya, dikutip pada Sabtu 11 Juni 2022.

Baca Juga: Sepanjang Tahun 2022, Zurich Syariah Targetkan Premi Tumbuh 50%

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Fajar.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Fajar.co.id.

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: