Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Kata Mahathir, Dia Gak Memaksa Malaysia Klaim Kepulauan Riau, Begini Klarifikasinya

Kata Mahathir, Dia Gak Memaksa Malaysia Klaim Kepulauan Riau, Begini Klarifikasinya Kredit Foto: Wikimedia Commons/Chatham House
Warta Ekonomi, Kuala Lumpur -

Mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengklaim pernyataannya mengenai kepemilikan tanah di semenanjung itu diambil di luar konteks karena dia hanya mengacu pada penolakan pemerintah negara bagian Johor bahwa mereka memiliki Pulau Batu Puteh.

“Saya tidak meminta Malaysia untuk mengklaim tanah yang telah kami hilangkan. Saya mencoba untuk menunjukkan bahwa kami sangat khawatir kehilangan batu seukuran meja tetapi tidak pernah tentang kehilangan bagian yang lebih besar dari Malaysia ketika mereka diambil dari kami," katanya, seperti dilaporkan The Malaysia Reserve.

Baca Juga: Desakan Mahathir ke Malaysia untuk Klaim Kepulauan Riau Direspons Kemenlu, Mohon Disimak

“Kehilangan Pulau Batu Puteh bukan masalah besar. Adalah kesalahan pemerintah Johor untuk menyangkal bahwa batu itu milik negara. Seandainya penolakan itu tidak dilakukan, tidak akan ada perselisihan sekarang,” katanya, menambahkan.

Dia menambahkan bahwa Malaysia harus berterima kasih kepada Mahkamah Internasional karena memberikan Pulau Ligitan dan Sipadan ke Malaysia karena mereka jauh lebih berharga daripada Pulau Batu Puteh.

“Kita patut bersyukur Indonesia tidak mempermasalahkan penghargaan tersebut. Sungguh, kami tidak mensyukuri hasil yang kami peroleh,” ujarnya.

Pada 19 Juni, Mahathir berbicara di Kongres Survival Melayu, di mana dia dikutip mengatakan bahwa Johor pernah memiliki Singapura dan yang pertama harus mengambilnya kembali.

Laporan berita mengutip dia yang mengatakan bahwa Tanah Melayu dulunya luas, membentang dari Tanah Genting Kra di Thailand selatan sampai ke Kepulauan Riau dan Singapura, tetapi sekarang terbatas di Semenanjung Malaya.

Mahathir juga mengatakan Malaysia saat ini tidak dimiliki oleh Bumiputera karena banyak orang Melayu tetap miskin dan mereka cenderung menjual tanah mereka.

Editor: Muhammad Syahrianto

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan