Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Sekutu Dekat Putin Desak Rusia, Ukraina, dan Barat Duduk Bareng Agar Hal Paling Mengerikan Gak Terjadi

Sekutu Dekat Putin Desak Rusia, Ukraina, dan Barat Duduk Bareng Agar Hal Paling Mengerikan Gak Terjadi Kredit Foto: Antara/Andrei Stasevich/BelTA/Handout via REUTERS
Warta Ekonomi, Minsk -

Sekutu dekat Presiden Vladimir Putin menyerukan agar Rusia, Ukraina, dan Barat berunding dan menghasilkan kesepakatan bersama demi setop konflik dan menghindari perang nuklir. Hal ini disampaikan langsung Presiden Belarusia Alexander Lukashenko.

“Kita harus berhenti, mencapai kesepakatan, mengakhiri kekacauan ini; operasi dan perang di Ukraina. Mari kita berhenti dan kemudian kita akan mencari cara untuk melanjutkan hidup. Tidak perlu melangkah lebih jauh. Selanjutnya terletak jurang perang nuklir. Tidak perlu pergi ke sana,” kata Lukashenko dalam wawancara dengan AFP di Minsk, dilaporkan laman The Moscow Times, Kamis (21/7/2022).

Baca Juga: Bareng Sekutu, Amerika Godok Kesepakatan buat Kirim Jet Tempur ke Ukraina

Sebagai sekutu dekat Presiden Vladimir Putin, Lukashenko menuding Barat mencari konflik dengan Rusia dan memprovokasi perang di Ukraina.

“Jika Rusia tidak mendahului kalian, anggota-anggota NATO, kalian akan mengorganisir dan menyerangnya (Rusia),” ucapnya.

Tokoh berusia 67 tahun yang telah memerintah Belarusia selama hampir tiga dekade itu berpendapat, Ukraina dapat mengakhiri perang jika mereka memulai kembali pembicaraan dengan Rusia dan menerima tuntutannya.

“Semuanya tergantung pada Ukraina. Keanehan saat ini adalah bahwa perang ini dapat diakhiri dengan persyaratan yang lebih dapat diterima untuk Ukraina,” ujar Lukashenko.

Ia mendesak Kiev untuk bersedia duduk di meja perundingan dan setuju tidak akan pernah mengancam Rusia. Untuk wilayah di timur dan selatan Ukraina yang sudah dikuasai Rusia, Lukashenko menilai, Kiev harus merelakannya.

“Ini tidak lagi dibahas. Seseorang bisa mendiskusikan ini pada Februari atau Maret (lalu),” ucapnya.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan, tak logis bagi negaranya untuk mengadakan pembicaraan damai dengan Ukraina dalam situasi seperti sekarang. Menurut dia, hingga saat ini Kiev belum menunjukkan iktikad untuk melakukan pembicaraan.

“Tidak masuk akal dalam situasi saat ini,” kata Lavrov saat ditanya jurnalis dari media pemerintah Rusia tentang pembicaraan damai dengan Ukraina, Rabu (20/7/2022).

Lavrov mengungkapkan, kontak antara Rusia dan Ukraina sebagian besar telah terhenti sejak pertengahan April lalu. Menurut dia, sedari putaran pertama pembicaraan dengan Ukraina, Kiev tidak memiliki keinginan untuk membahas apa pun secara sungguh-sungguh.

“Mereka tidak akan pernah bisa mengartikulasikan apa pun yang pantas mendapat perhatian serius dari orang-orang yang serius. Kami sudah mengetahuinya,” ujar Lavrov.

Rusia melancarkan serangan ke Ukraina pada 24 Februari lalu. Saat ini, Moskow sudah menguasai sebagian wilayah di timur Ukraina, salah satunya Luhansk. Rusia pun tengah berusaha mengambil alih kontrol atas Donetsk.

Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev mengungkapkan, tujuan operasi militer negaranya di Ukraina akan berhasil. Saat momen itu tiba, Moskow bakal menetapkan syarat untuk kesepakatan damai.

“Rusia akan mencapai semua tujuannya. Akan ada perdamaian, dengan syarat kami,” kata Medvedev dalam sebuah unggahan di saluran Telegram, Selasa (19/7/2022).

Mantan presiden Rusia itu tak mengungkap detail tentang persyaratan apa yang kemungkinan diajukan Moskow.

Baca Juga: Gerindra Bakal Lanjutkan IKN Jika Prabowo Terpilih Jadi Presiden, Said Didu Singgung Pemilik Tanah Terluas di IKN

Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Warta Ekonomi dengan Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Advertisement

Bagikan Artikel: