Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Net Zero Emission Jadi Pilihan Utama Meski Gerus Pertumbuhan Ekonomi

Net Zero Emission Jadi Pilihan Utama Meski Gerus Pertumbuhan Ekonomi Kredit Foto: Antara/Wahyu Putro A
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pesatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asia Tenggara dalam 20 tahun terakhir dan komitmen menuju net zero emission (NZE) menjadi sebuah hal yang sedikit berlawanan. 

Direktur Sales, Indonesia, Wärtsilä Energy Febron Siregar mengatakan, pertumbuhan dalam dua dekade terakhir didasari akibat penggunaan pembangkit listrik yang masih menggunakan energi fosil. Padahal sekarang negara-negara berkomitmen mencapai net zero emission.

"Beberapa negara itu beda-beda seperti Laos, Vietnam, Singapura, Thailand, mereka berjanji tahun 2050 sudah NZE, sedangkan Filipina bahkan 2040, untuk Indonesia pemerintah berjanji di tahun 2060," ujar Febron dalam konfrensi pers, Kamis (15/9/2022).

Baca Juga: Energi Baru Terbarukan Berperan Besar dalam Upaya Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

Menurutnya, komitmen tersebut diperlukan untuk menekan angka emisi karbon yang diciptakan oleh pembangkit listrik. Febron mencontohkan seperti di Jakarta yang sering mengalami kemacetan dan terkadang masyarakat merasakan udara kotor yang dihasilkan dari knalpot kendaraan.

"Tetapi berdasarkan data penyumbang CO2 terbanyak bukan transportasi, tetapi pembangkit itu cukup besar kontribusinya atau power generation cukup besar kontribusinya untuk emisi sehingga sangat penting untuk mengurangi emisi," ujarnya.

Maka dari itu, Febron menilai sangat penting untuk mengurangi emisi di sektor pembangkit listrik dan kalau tidak ada komitmen net zero emission mungkin di tahun 2050 akan tetap ada emisi yang cukup banyak.

"Jadi kalau dunia tidak berkomitmen mengurangi emisinya, maka hampir 30 giga ton CO2 akan masih ada," ucapnya.

Baca Juga: Bank Bjb Teken Kerja Sama Pembayaran Manfaat Pensiun Pegawai Kimia Farma

Penulis: Djati Waluyo
Editor: Rosmayanti

Advertisement

Bagikan Artikel: