Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Dibayangi Kondisi Global, Ekspor Industri Manufaktur Tetap Tumbuh

Dibayangi Kondisi Global, Ekspor Industri Manufaktur Tetap Tumbuh Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

Industri pengolahan mencatatkan nilai ekspor sepanjang Januari–Agustus 2022 sebesar US$ 139,23 miliar atau naik 24% dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy). Sektor industri tetap memberikan kontribusi terbesar, dengan sumbangsihnya hingga 71,55% terhadap total nilai ekspor nasional yang menembus US$194,60 miliar.

Kendati ekspor industri pengolahan membaik, pemerintah tetap diingatkan untuk memperkuat konsumsi domestik agar pertumbuhan ekonomi terjaga karena terganggunya ekonomi di negara mitra utama Indonesia.

Caranya, dengan menambah nilai bantalan sosial (bansos) agar mengungkit daya beli masyarakat. “Kinerja ekspor dari sektor industri manufaktur masih terus melambung, meskipun berada di tengah risiko ketidakpastian kondisi global yang membayangi ekonomi nasional,” kata Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, kemarin.

Agus menegaskan pengapalan sektor industri manufaktur konsisten memberikan andil yang besar terhadap surplus neraca perdagangan Indonesia. “Neraca perdagangan kita surplus selama 28 bulan berturut-turut, dan ini menunjukkan kebijakan pemerintah dalam pemulihan ekonomi berada di jalur tepat,” ungkapnya.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan secara kumulatif pada Januari–Agustus 2022 surplus US$34,92 miliar atau tumbuh 68,6% (yoy). “Surplus neraca perdagangan tidak terlepas dari program hilirisasi industri yang terus kami jalankan, guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di Indonesia,” tutur Agus.

Nilai ekspor komoditas turunan nikel meningkat signifikan sejak pemerintah memberlakukan pelarangan ekspor bijih nikel mulai awal 2020.

Hal ini terlihat dari nilai ekspor komoditas turunan nikel pada Januari–Agustus 2022 yang mencapai US$12,35 miliar atau tumbuh hingga 263% jika dibandingkan 2019, sebelum pemberlakukan larangan ekspor bijih nikel yang hanya mencapai US$ 3,40 miliar

Baca Juga: OJK Bakal Evaluasi Semua Produk Saving Plan di Industri Asuransi

Baca Juga: Asal Muasal Presidential Threshold 20 Persen Gegara Kemenangan SBY di Pilpres 2004, Ini Nih Biang Keroknya

Penulis: Boyke P. Siregar
Editor: Boyke P. Siregar

Advertisement

Bagikan Artikel: