Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Demokrat Merengek-rengek Minta Ubah Persentase PT Capres-Cawapres, Guntur Romli: Kok Enaknya Sendiri?

Demokrat Merengek-rengek Minta Ubah Persentase PT Capres-Cawapres, Guntur Romli: Kok Enaknya Sendiri? Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presidential threshold (PT) atau ambang batas pencalonan presiden pada masa pemerintahan presiden RI ke 6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat diubah. 

Persentase PT sebelumnya adalah 15% namun dinaikan atau diubah setelah SBY menjabat pada tahun 2014 dengan persentase 20%.

Mengacu pada konsepnya, partai politik (parpol) atau gabungan parpol, wajib memiliki syarat minimal perolehan suara atau persentase kursi di DPR, agar bisa mengajukan capres/cawapres untuk pemilu.

Aktivis Jaringan Islam Liberal dan politikus Partai Solidaritas Indonesia, Guntur Romli mengatakan perubahan kebijakan itu berbalik tidak menguntungkan untuk partai SBY, Demokrat. 

Baca Juga: Megawati Kaget Ada Dewan Kolonel yang Siap Dukung Puan Maharani di Pilpres 2024, Hasto: Gak Ada Dewan Kolonel!

“Aturan PT untuk pencapresan juga Diubah saat SBY dan Demokrat berkuasa dari 15% dinaikkan menjadi 20%. Tapi kemudian sekarang Demokrat merengek-rengek minta diubah. Loh kok enaknya sendiri?” katanya melansir dari channel youtube Cokro TV, Kamis (22/09/22).



Guntur mengatakan, saat berkuasa Demokrat hanya menetapkan permainan yang menguntungkan sendiri. Tapi saat tersingkir dari gelanggang pertandingan kemudian merengek-rengek minta aturan diubah. 

“Kita tidak meragukan sayangnya SBY pada anaknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) hingga jadi ketua umum Demokrat. Tapi jangan sampai sayang pada anak kemudian mau memaksakan anaknya harus terlibat dalam Capres atau Cawapres sementara suara Demokrat tidak cukup,” tambahnya. 

Baca Juga: Guntur Romli Yakin Tabloid Anies Baswedan Disebar Pendukungnya, Warganet Malah Nyindir: Psikologi Terbalik!

Hal inilah yang menurut Guntur membuat SBY melontarkan pernyataan mengenai ada tanda-tanda Pemilu 2024 tidak jujur dan tidak adil. 

“Ini bisa ada pepatah baru, buruk muka bagi Demokrat. Karena sistem politik Indonesia yang dibelah,” kata dia. 

Baca Juga: Kasian Ganjar Pranowo, Loyalis Megawati Cuma Ingin Puan Maharani di Pilpres 2024

Dia juga mengingatkan kalau SBY mau menunjuk pihak pihak yang katanya mau jegal anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) maka ingat satu jari telunjuk mengarah ke lawan tapi empat jari telunjuk lainnya mengarah pada diri SBY dan Demokrat sendiri. 

Baca Juga: PAN Jateng Dukung Pencapresan Ganjar Pranowo, Pengamat: Bisa Dapat Tiket Capres KIB

Baca Juga: Asal Muasal Presidential Threshold 20 Persen Gegara Kemenangan SBY di Pilpres 2004, Ini Nih Biang Keroknya

Penulis: Sabrina Mulia Rhamadanty
Editor: Sabrina Mulia Rhamadanty

Advertisement

Bagikan Artikel: