Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Harga Kedelai di Lampung Melambung, Omzet Pedagang Turun 30%

Harga Kedelai di Lampung Melambung, Omzet Pedagang Turun 30% Kredit Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga kedelai di pasar tradisional Kota Bandar Lampung terus melambung menjadi Rp13.000 per kg pada Rabu (5/10/2022). Pengrajin tempe dan tahu mengaku sulit untuk menyiasati produknya agar tetap bertahan usahanya.

Pedagang kedelai di Pasar Pasir Gintung Kota Bandar Lampung mengatakan, terjadi kenaikan harga kedelai dalam dua pekan terakhir. Harga kedelai eceran pekan lalu masih Rp 12.000 per kg, sekarang ini sudah mencapai Rp13.000 per kg.

“Kami jual eceran Rp 13.000 per kg, kalau partai besar Rp 12.500 per kg,” kata Tina 42 tahun), penjual kedelai di Pasar Pasir Gintung.

Menurut dia, meski harga kedelai mahal namun pasokan kedelai impor masih normal tidak sulit. Namun harga mahal, ujar dia, disebabkan negara pengimpor informasinya mengalami gagal panen kedelai, dan juga terjadi gejolak harga dolar terhadap rupiah.

Dia mengatakan, harga kedelai mahal juga berpengaruh dengan omset penjualan kedelai kepada pelanggan. Saat harga kedelai naik di atas Rp 11.000 sampai Rp 13.000 per kg, terjadi penurunan omset mencapai 30%. 

Ia berharap pemerintah segera turun tangan mengatasi harga kedelai yang cenderung naik tidak terkendali. Menurut dia, harga kedelai normal itu di bawah Rp 10.000 atau kisaran Rp 6.000 sampai Rp 8.000 per kg, sehingga pengusaha tahu tempe dapat produksi dengan lancar.

Sedangkan pengrajin rumahan tempe dan tahu di Kota Bandar Lampung mengaku sulit untuk mensiasati mahalnya harga kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu. Dengan harga kedelai Rp 13.000 per kg, pengrajin menyatakan, tidak sesuai dengan harga tempe dan tahu di pasaran.

Ukuran tempe sudah sesuai dengan harga pasaran yakni Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per buah sesuai ukuran. “Mau dinaikan harga jual, tidak ada yang beli. Dikecilkan ukuran juga banyak yang mengeluh, serba salah,” kata Adi, pengrajin tempe di Telukbetung Utara.

Dia mengaku kenaikan harga kedelai mulai dari 11.500 per kg, naik lagi menjadi Rp 12.000 sampai Rp 13.000 per kg sangat memukul usaha rumah tangga mereka bangkrut. Para pengrajin sulit mensiasati naiknya harga bahan baku dengan produk tempenya.

Ia mengatakan ukuran tempe yang dijual di pasaran sudah standar sesuai dengan harga eceran. Sekarang ini, ujar dia, produksi mulai dikurangi karena sulit mensiasati dengan bahan baku kedelai yang mahal, yang biasanya saat normal harga kedelai di bawah Rp 10.000 per kg.

Hal sama terjadi dengan pengrajin tahu di Kaliawi, Bandar Lampung. Mahalnya harga kedelai membuat pengrajin mulai mengecilkan ukuran tahu agar sebanding dengan biaya produksi. “Kalau tidak dikecilkan kami tidak mendapat untung,” kata Hasan, pengrajin tahu.

Menurut dia, penjual tahu secara eceran di pasaran mensiasati harga dengan menjual tahu secara kemasan bukan per biji. “Tahu sudah dibungkus isi 10 biji dengan harga beragam Rp 7.000 sampai Rp 10.000. Tergantung ukuran,” ujarnya.

Baca Juga: Pendukungnya Sebut Anies Kerap Diserang Isu Hoaks, Waketum Partai Garuda Sentil: Jika Tidak Mampu Menari, Jangan Salahkan Lantainya

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Boyke P. Siregar

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: