Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dewan Baja ASEAN (AISC) Mendorong Penguatan Industri Baja Regional

Dewan Baja ASEAN (AISC) Mendorong Penguatan Industri Baja Regional Kredit Foto: AISC

"Namun secara keseluruhan anggota AISC optimistis bahwa setelah pandemi Covid-19 berakhir, industri baja di ASEAN pun dapat menguat kembali dan melanjutkan pemulihan kinerjanya," ujar Silmy.

Selain negara China, para anggota AISC juga membahas terkait potensi ekspor impor baja maupun bahan baku baja dari negara Rusia dan Ukraina. Selain dapat menjadi tantangan yang harus dihadapi, jumlah ekspor impor dari Rusia dan Ukraina pun dapat dijadikan peluang untuk pemenuhan kebutuhan baja dari negara-negara yang melarang masuknya impor baja dari Rusia dan Ukraina seperti misalnya Uni Eropa dan Turki.

Baca Juga: 5 Negara Teken MoU, Pembayaran Digital Lintas ASEAN Dapat Terwujud

Berdasarkan data AISC terakhir, Rusia memproduksi baja mentah sebanyak 76 juta ton di 2021, meningkat 6,1% dari sebelumnya sebesar 71,6 juta ton di 2020. Ukraina memproduksi baja mentah sebanyak 21,4 juta ton di 2021, meningkat 3,6% dari sebelumnya sebanyak 20,6 juta ton di 2020.

"Dengan jumlah produksi yang cukup besar, Rusia merupakan negara ke-dua terbanyak yang mengekspor baja setelah China dengan total ekspor sebesar 41,6 juta ton di 2021 dibandingkan dengan China yang sebanyak 56,5 juta ton. Sedangkan Ukraina mengekspor 19,7 juta ton baja di tahun 2021. Ini adalah sesuatu yang harus kita waspadai," ujar Silmy.

Pada kesempatan ini AISC juga mengajak keseluruhan anggotanya di ASEAN untuk berkontribusi dalam penghematan energi dan pelestarian lingkungan melalui teknologi baja yang ramah lingkungan yang sudah mulai diterapkan di beberapa negara seperti misalnya di Jepang.

Baca Juga: Sunrise Steel Edukasi Pelanggan dan Agen Soal Pentingnya Penggunaan Baja Ringan Berkualitas

Beberapa negara di dunia saat ini pun mengevaluasi kembali penyesuaian pembatasan jumlah karbon terutama negara-negara di Uni Eropa yang saat ini sudah memulai proses pengesahannya. Penerapan ISO14030-3 juga diajukan untuk terciptanya Green Steel Industry di Uni Eropa yang saat ini masih dalam tahap evaluasi oleh EU Emission Trading System. 

"Kami sebagai bagian dari asosiasi baja dunia terus berupaya mewujudkan konservasi energi dan penggunaan teknologi ramah lingkungan pada pabrik baja demi tercapainya Sustainable Development Goals pada industri baja," tutup Silmy Karim yang juga merupakan Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ayu Almas

Berita Terkait