Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Distribusi MBG Bermasalah, Siswa Dipaksa Menyeberang Jalan Ambil Makanan

Distribusi MBG Bermasalah, Siswa Dipaksa Menyeberang Jalan Ambil Makanan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Masalah distribusi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Probolinggo memicu kekhawatiran serius terkait keselamatan siswa. Sejumlah peserta didik bahkan harus berjalan kaki dan menyeberang jalan hanya untuk mengambil jatah makanan mereka.

Kondisi tersebut terjadi di SDN Sumberbulu, Kecamatan Tegalsiwalan. Sekolah ini memiliki dua gedung yang terpisah, sehingga sistem distribusi yang tidak merata menimbulkan risiko bagi siswa.

Sebelumnya, makanan hanya didistribusikan di satu titik di gedung timur. Akibatnya, siswa dari gedung barat terpaksa berpindah lokasi dengan pendampingan guru untuk mengambil ompreng.

Situasi ini langsung mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Pemkab Probolinggo melalui tim Satuan Tugas MBG segera melakukan monitoring dan evaluasi di lapangan.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Probolinggo, M. Sjaiful Efendi, menegaskan bahwa distribusi tidak boleh membebani siswa. Ia menyebut tanggung jawab pengantaran sepenuhnya berada pada penyedia layanan.

“Distribusi ompreng merupakan tanggung jawab penyedia, bukan siswa. Oleh karena itu, mulai hari ini pengantaran harus dilakukan langsung ke masing-masing lokasi gedung,” ujarnya dikutip dari ANTARA.

Kebijakan ini diambil untuk memastikan keamanan dan kenyamanan peserta didik.

Selain aspek distribusi, pemerintah juga menyoroti pentingnya kualitas konsumsi makanan. Siswa diminta untuk mengonsumsi makanan langsung di sekolah demi menjaga keamanan pangan.

“Makanan harus dikonsumsi di sekolah, tidak boleh dibawa pulang untuk menghindari risiko penurunan kualitas makanan,” tegasnya.

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari pengawasan program MBG secara menyeluruh.

Pemerintah daerah juga meminta agar setiap keluhan segera ditindaklanjuti oleh pihak terkait. Koordinasi antara sekolah dan penyedia layanan dinilai penting agar program berjalan optimal.

Dari hasil evaluasi, penyedia layanan menyatakan siap melakukan perubahan sistem distribusi. Makanan kini akan diantar langsung ke dua titik gedung sekolah.

Baca Juga: Melihat Praktik Kyushoku, Program MBG di Jepang yang Tak Cuma Makan Tapi Pembentukan Karakter Anak

Pihak sekolah juga diminta menyiapkan tempat yang layak untuk penyimpanan sementara makanan. Penempatan ompreng harus di atas meja dan tidak boleh langsung di lantai.

Perbaikan ini diharapkan mampu menghilangkan risiko yang sebelumnya muncul. Program MBG pun diharapkan dapat berjalan lebih aman dan tepat sasaran.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa implementasi program tidak hanya soal ketersediaan makanan. Aspek distribusi dan keselamatan siswa menjadi faktor krusial yang tidak boleh diabaikan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement