Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Merendah Bilang Bukan Gubernur Sukses, Netizen Malah Dukung Ucapan Ganjar: Hasil Kerjanya Apa Sih? Cuma Buat Konten

Merendah Bilang Bukan Gubernur Sukses, Netizen Malah Dukung Ucapan Ganjar: Hasil Kerjanya Apa Sih? Cuma Buat Konten Kredit Foto: Antara/Didik Suhartono
Warta Ekonomi, Jakarta -

Masyarakat masih heboh dengan ciri-ciri pemimpin ideal yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Saat pidato dalam acara relawan Nusantara Bersatu di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (26/11), Jokowi mencirikan pemimpin yang ideal memiliki wajah berkerut dan rambut putih.

"Saya ulang. Jadi pemimpin yang mikirin rakyat itu kelihatan dari penampilannya. Dari kerutan di wajahnya. Kalau wajahnya cling bersih, tidak ada kerutan di wajahnya hati-hati. Lihat juga, lihat rambut rambutnya. Kalau rambutnya putih semua ini mikir rakyat ini," terangnya.

Baca Juga: Rajin Datangi Acara Relawan, tapi Jarang Temui Pendemo, Jokowi Kena Sentil: Konon Katanya Rindu Didemo

Tak sedikit yang langsung menunjuk Ganjar Pranowo sebagai sosok 'Si Rambut Putih' itu lantaran identik dengan rambut berwarna putih yang ada di kepala sang Gubernur Jawa Tengah itu.

Menjawab hal tersebut, Ganjar merasa dirinya bukan sosok pemimpin ideal yang disinggung Presiden. Ia merasa dirinya tak banyak berprestasi, dan bahkan menghitamkan rambutnya usai ramai istilah rambut putih berkat pidato Jokowi.

"Mungkin saya tidak punya terlalu banyak bakat yang hebat. Prestasi juga tidak banyak. Jadi gubernur juga tidak sukses. Tapi ketika ada banyak tekanan, saya tiba-tiba dituduh jadi si Rambut Putih. Wong yang punya rambut putih juga banyak kok," seloroh Ganjar.

Sementara, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah mencoba mengkaji pernyataan Ganjar dari sudut pandang komunikasi politik. Menurutnya, di satu sisi, pernyataan Ganjar benar adanya.

Jika melihat dari prestasi gubernur se-Pulau Jawa, Ganjar lah yang terburuk. Mulai konflik yang mengemuka, kemiskinan meningkat, bahkan hal yang sifatnya dengan tata kelola, Jawa Tengah masuk kategori yang tidak baik.

Baca Juga: OJK dan LPS Atur Kriteria Peserta Asuransi yang bisa Masuk Penjaminan Polis

Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka.

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Bagikan Artikel: