Wapres Minta Filosofi 'Satu Tungku Tiga Batu' Jadi Tatanan Kehidupan Bermasyarakat
Kredit Foto: Humas Wapres
"Harapannya tadi juga supaya semua program yang sudah dicanangkan itu didukung bukan [saja] oleh pemerintah daerah, melainkan juga oleh seluruh lapisan masyarakat," pinta Wapres.
"Saya melihat bahwa Papua ini sesuai dengan arahan yang sudah kita canangkan supaya menjadi Papua yang cerdas, Papua yang sehat, dan juga Papua yang sejahtera. Ini yang ingin kita percepat pembangunannya," pungkasnya.
Baca Juga: Beranjak dari Nabire, Wapres Kunjungi Kabupaten Fakfak di Papua Barat
Sementara itu, Pj. Gubernur Papua Barat, Paulus Waterpauw, menekankan kembali di hadapan Wapres dan seluruh peserta pertemuan, Kabupaten Fakfak akan berupaya penuh dalam menjaga masyarakat Kabupaten Fakfak yang rukun dan damai dengan berlandaskan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
"Itulah sekilas suara hati yang keluar dari para raja yang mendominasi pemerintahan di Kabupaten Fakfak ini. Kalau Bapak boleh lihat kemarin, kehadiran Bapak di mana masyarakat, mulai dari orang dewasa sampai anak-anak menjemput Bapak, itu bukan digerakkan, tapi memang mereka bergerak sebagai bentuk kecintaan pada pemimpin," tutur Paulus.
"Artinya, kebinekaan itulah yang kami harap bisa diwujudkan di Kabupaten Fakfak ini," tutupnya.
Sebelumnya, Wapres telah mendengar aspirasi dari tokoh agama dan masyarakat Kabupaten Fakfak yang disampaikan oleh enam orang perwakilan, yaitu Sekretaris Daerah Kabupaten Fakfak, Ali Baham Temongmere; Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Fakfak, Ali Hindom; Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Fakfak, Mohamad Don Dg. Husein; Tokoh Agama Katolik Kabupaten Fakfak, Diakon Didimus Temongmere; Sekretaris Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Fakfak, Willi Hegemur; dan Raja Pikpik Sekar, Arif H. Rumagesan.
Salah satu tokoh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Fakfak, Ali Hindom, meminta adanya pendidikan bagi para pemuka agama di Kabupaten Fakfak.
"Kami menjaga kerukunan, di sini sangat baik komunikasi seluruh umat beragama. Kalau bisa tolong dibangun pesantren, pendeta katolik butuh sekolah. Kalau bisa ada sekolah agama untuk mendidik jadi imam, jadi pendeta," ujar Ali.
Sejalan dengan hal tersebut, Tokoh Agama Katolik Kabupaten Fakfak, Diakon Didimus Temongmere, juga menyebutkan pentingnya peningkatan kualitas bagi tenaga terampil di bidang agama dan menuturkan perlu adanya perhatian terhadap kesejahteraan para pemuka agama yang aktif di rumah ibadah, baik masjid dan gereja.
"Kami butuh tenaga pelayanan dari seluruh agama di Fakfak karena tenaga terampil yang saleh dan salehah dapat membimbing dan menjaga umat beragama dengan baik. Kami butuh pembinaan-pembinaan yang dilangsungkan pihak gereja dan agama lain," tutur Didimus.
"Tokoh-tokoh agama, terutama mereka yang di masjid dan gereja yang sudah bekerja tanpa pamrih perlu diperhatikan kesejahteraannya," tambahnya.
Hadir pada kesempatan tersebut, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia dan Bupati Fakfak, Untung Tamsil, beserta jajaran tokoh agama dan tokoh masyarakat Kabupaten Fakfak.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ayu Rachmaningtyas Tuti Dewanto
Editor: Puri Mei Setyaningrum
Tag Terkait:
Advertisement