Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

PLN Beberkan Strategi Atasi Trilema Energi

PLN Beberkan Strategi Atasi Trilema Energi Kredit Foto: PLN
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dalam menjalankan agenda transisi energi di Indonesia, PT PLN (Persero) dihadapkan dengan trilema energi yang harus dilalui dan dicari solusinya. 

Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Wiluyo Kusdwiharto menjelaskan dalam menjalankan transisi energi PLN juga harus memastikan keterjangkauan biaya oleh masyarakat (affordability), keamanan pasokan listrik (security), dan keberlanjutan lingkungan  (sustainability) atau konsep trilema energi.

Untuk bisa memenuhi prinsip penting ini, maka upaya transisi energi perlu dilakukan dengan kehati-hatian dan bertahap.

“Pembangkit EBT ini harus dibangun secara bertahap, untuk menggantikan pembangkit fosil yang masih kita miliki. Pembangkit EBT punya karakteristik yang berbeda. Masih bersifat intermitten, maka peralihan ke energi bersih perlu dilakukan dengan bertahap supaya trilema energi ini dapat kita penuhi,” ujar Wiluyo dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (4/12/2023). 

Baca Juga: Kolaborasi Pendanaan JETP, PLN Siap Akselerasi Transisi Energi Lewat Dukungan Global

Wiluyo mengatakan, Untuk bisa menjawab tantangan pemerataan akses listrik dari sumber EBT dan affordability, PLN saat ini mengembangkan Green Enabling Transmision Line, di mana kekuatan transmisi dan jaringan distribusi sangat penting dalam pengembangan EBT di Indonesia. 

“Sehingga kita bisa memanfaatkan potensi EBT yang mayoritas berada di luar Jawa untuk bisa dimanfaatkan dan dirasakan oleh seluruh masyarakat di Indonesia," ujarnya. 

Baca Juga: Mulai Jajaki Energi Nuklir, PLN Kaji Kelayakannya Bersama KHNP Korsel

Tidak hanya itu, PLN juga tengah berupaya melakukan dekarbonisasi dari sektor hulu salah satunya adalah pembatalan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar 13,3 GW yang sebelumnya sudah direncanakan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028.

“Kemudian kita mengganti 1,1 GW PLTU kita dengan pembangkit EBT, kemudian 800 MW PLTU dengan pembangkit Gas. Kemudian kita sudah mengganti pemakaian batu bara di 41 PLTU kita dengan produk Biomassa kita dari total 52 PLTU,” ucapnya.

Baca Juga: Tim Hukum AMIN Endus Dugaan Pelanggaran Pemilu di Bali

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Djati Waluyo
Editor: Annisa Nurfitriyani

Advertisement

Bagikan Artikel: