Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Kabar Sawit
Video
Indeks
About Us
Social Media

Bursa Asia Meradang, Investor Soroti Kebijakan Tarif Impor hingga Arah Suku Bunga Jepang

Bursa Asia Meradang, Investor Soroti Kebijakan Tarif Impor hingga Arah Suku Bunga Jepang Kredit Foto: Reuters/Toru Hanai
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bursa Asia kompak mengalami koreksi dalam perdagangan di Kamis (20/2). Hal ini tidak terlepas dari ancaman terbaru seputar kebijakan tarif impor dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Dilansir dari CNBC International, Jumat (21/2), berikut ini adalah catatan pergerakan sejumlah indeks utama dalam Bursa Asia. Beberapa indeks mencatatkan koreksi yang signifikan:

  • Nikkei 225 (Jepang): Anjlok 1.24% ke 38.678,04.
  • Topix (Jepang): Turun 1.18% menjadi 2.734,60.
  • Kospi (Korea Selatan): Turun 0.65% ke 2.654,06.
  • Kosdaq (Korea Selatan): Melemah 1.28% ke 768,27.
  • CSI 300 (China): Turun 0.29% ke 3.928,90.
  • Hang Seng (Hong Kong): Ambles 1.60% ke 22.576,98.
  • Strait Times (Singapura): Turun 0,17% ke 3,927.51

Dari Jepang, ekspektasi kenaikan suku bunga menekan pergerakan bursa saham dari negara tersebut. Hal ini juga tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dari Jepang.

Anggota Dewan Bank of Japan Hajime Takata mengatakan bahwa suku bunga riil tetap sangat negatif dan bank sentral harus menyesuaikan tingkat dukungan moneter lebih lanjut jika ekonomi bergerak sesuai dengan perkiraan.

Menteri Perdagangan Jepang, Yoji Muto juga dikabarkan tengah merencanakan perjalanan guna melobi Trump. Jepang ingin dikecualikan dalam kebijakan tarif impor terhadap komoditas baja dan mobil ke AS.

Trump baru-baru ini juga kembali menebar ancaman dengan mengatakan bahwa dirinya mempertimbangkan untuk menerapkan kebijakan tarif impor kepada produk hutan. Hal ini menyusul rencananya untuk mengenakan tarif impor untuk mobil, chip, dan obat-obatan mulai 2 April 2025.

Baca Juga: Dorong Perdagangan Berkelanjutan, Kemendag Dukung Pertemuan Bisnis Pelaku Usaha RI dan Jepang

Namun, Trump belum mengungkapkan apakah kebijakan ini akan menyasar negara tertentu atau berlaku secara umum. Faktor ini menguatkan ketidakpastian dalam pasar.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: