Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Kabar Sawit
Video
Indeks
About Us
Social Media

KKP Kembali Kenalkan Rumput Laut Sebagai Mata Pencaharian Potensial di Kepulauan Seribu

KKP Kembali Kenalkan Rumput Laut Sebagai Mata Pencaharian Potensial di Kepulauan Seribu Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya membangkitkan geliat budidaya rumput laut yang dulu pernah mengalami masa kejayaan di Kepulauan Seribu.

Pasalnya kini masyarakat yang dulu berkecimpung dalam kegiatan tersebut beralih ke usaha lain karena budidaya rumput laut kurang menjanjikan keuntungan imbas serangan penyakit ice-ice salah satunya.

Baca Juga: Semakin Diminati, KKP Harap Ikan Tuna Kalamo Biak Bisa Rambah Pasar Global

Dalam upaya membangkitkan geliat tersebut, KKP kini membuat percontohan budi daya rumput laut di Pulau Kongsi, Kepulauan Seribu, dengan melibatkan masyarakat setempat. 

Hal tersebut sebagai upaya pengembangan sumber daya manusia (SDM), sekaligus mengenalkan kembali rumput laut sebagai mata pencaharian potensial.

Percontohan budi daya rumput laut tersebut merupakan percontohan penyuluhan, pendidikan, dan pelatihan yang terdapat di lokasi SMART Fisheries Village (SFV) atau desa perikanan cerdas di Pulau Kongsi.

SFV di pulau ini dibangun oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM) KKP melalui Balai Riset Perikanan Laut (BRPL).

“Konsep SFV digunakan sebagai sarana pengembangan SDM baik dari aspek pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan, serta sebagai sarana inkubasi bisnis untuk mencetak startup di bidang kelautan dan perikanan,” tutur Kepala BPPSDM I Nyoman Radiarta, dikutip dari siaran pers KKP, Selasa (25/3).

Kepala BRPL Luthfi Assadad mengatakan, pariwisata di Kepulauan Seribu semakin meningkat pesat, menjadi salah satu andalan pendapatan daerah, dan juga sumber nafkah bagi penduduk di Kepulauan Seribu. 

Di sisi lain, terdapat zonasi atau pembagian tata ruang, dimana area Kepulauan Seribu di bagian selatan memang diarahkan untuk jasa, ekonomi dan perdagangan. Sehingga area yang sebelumnya digunakan untuk budi daya rumput laut dan penangkapan ikan, digunakan untuk kegiatan non perikanan.

“Menghadapi paradigma tersebut, kami membuat sebuah percontohan budi daya rumput laut di perairan Pulau Kongsi untuk pengembangan SDM, dengan melibatkan kelompok pembudi daya rumput laut Pokdakan Cottoni Jaya dari Pulau Pari. Kegiatan ini mengarah kepada cara budi daya rumput laut yang baik dengan mengacu kepada SNI Budi Daya Rumput Laut, mulai dari pemilihan lokasi, seleksi bibit, penggunaan metode dan waktu tanam yang tepat, serta penanganan pasca panen untuk meningkatkan nilai tambah produk rumput laut,” jelas Luthfi. 

Hanafi, Ketua Pokdakan Cottoni Jaya, menyampaikan, sepanjang tahun 2024 lalu pihaknya telah memproduksi sebanyak 8,8 ton rumput laut kering. Sebagai mitra SFV Pulau Kongsi, Pokdakan Cottoni Jaya merasa sangat terbantu dengan pendampingan yang diberikan oleh SFV Pulau Kongsi. 

Dengan adanya pendampingan ini, hasil yang lebih besar menjadi harapan di tengah gempuran pergeseran tata guna lahan dan mata pencaharian di lingkungan masyarakat setempat.

Tommi Susilo Utomo Lamanepa, Penyuluh Perikanan Kepulauan Seribu, juga menyampaikan, sejak terbangunnya SFV Pulau Kongsi, Pokdakan Cottoni Jaya khususnya dan masyarakat Pulau Pari pada umumnya bertambah semangat dalam menjalankan aktifitas kegiatan di sektor kelautan dan perikanan. 

Kegiatan penyuluhan kepada masyarakat juga semakin menarik karena adanya tambahan pengetahuan yang diterima oleh masyarakat mengenai budi daya rumput laut.

Di sisi lain, percontohan budi daya rumput laut ini juga menjadi ajang pembelajaran dalam bentuk pelaksanaan magang mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Advertisement

Bagikan Artikel: