Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Produksi Udang Kebumen Tembus 46 Ton di Siklus ke-8

Produksi Udang Kebumen Tembus 46 Ton di Siklus ke-8 Kredit Foto: Antara/Irwansyah Putra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan capaian positif dari Kawasan Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di Kebumen, Jawa Tengah.

Tambak yang dibangun KKP tersebut berhasil mencatatkan panen lanjutan sebanyak 46 ton udang vaname, berasal dari panen parsial pada 32 petakan tambak. 

Panen kali ini merupakan siklus produksi ke-8 yang diharapkan menjadi pendorong tumbuhnya industri udang nasional yang modern dan berkelanjutan.

“Alhamdulillah, produksi terus meningkat dan kualitas udang sangat baik. Ini bukti bahwa sistem budidaya yang dijalankan sudah sesuai standar, termasuk pengelolaan lingkungan melalui IPAL,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Tb Haeru Rahayu, dikutip dari siaran pers KKP, Senin (4/5).

Tebe turun langsung meninjau kegiatan panen di Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan pada Jumat (1/5) kemarin. Dia mengapresiasi capaian tersebut sekaligus memastikan penerapan standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) berjalan optimal.

Secara bertahap, produksi BUBK Kebumen menunjukkan tren positif. Dari total 139 kolam, seluruhnya saat ini beroperasi aktif. Memasuki siklus kedelapan, panen parsial telah dilakukan sebanyak tiga kali, masing-masing sebesar 12 ton, 15 ton, dan meningkat menjadi 19 ton. Secara akumulatif, total produksi sementara mencapai 46 ton dari 32 petak tambak, dengan ukuran udang berkisar size 35–40.

Tak hanya dari sisi kuantitas, kualitas udang juga dinilai unggul dan memenuhi standar pasar, bahkan menarik minat pembeli yang datang langsung ke lokasi. Kondisi ini menjadi indikator kuat keberhasilan sistem budidaya yang efisien dan terkontrol.

Penanggung jawab teknis BUBK Kebumen, Iwan Sumantri, menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan menjadi prioritas utama dalam operasional tambak. “Sistem IPAL berjalan dengan baik. Indikatornya terlihat dari kualitas air yang tetap terjaga dan tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan. Ini menjadi komitmen kami agar budidaya tetap produktif sekaligus berkelanjutan,” jelas Iwan.

Ia menambahkan, seluruh proses mulai dari intake, tandon, hingga on-farm dan IPAL dijalankan sesuai standar operasional untuk memastikan keberlanjutan produksi dan keamanan lingkungan.

BUBK Kebumen juga berperan sebagai pusat pembelajaran bagi pembudidaya. Kehadirannya mendorong transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Salah satu petambak lokal, Andes Wahyabremudho, mengaku merasakan manfaat langsung dari keberadaan BUBK. Selain peningkatan pengetahuan teknis, kolaborasi antarpetambak juga semakin kuat dan produktivitas usaha meningkat signifikan. 

“Dengan adanya BUBK, kami bisa banyak belajar dari sisi teknis. Ilmu baru, sharing dengan tim teknis, sampai peningkatan kualitas budidaya sangat terasa. Dampak positifnya jauh lebih banyak,” ungkap Andes. 

Baca Juga: KKP Perkuat Layanan KKPRL, Iklim Investasi Laut Kian Terjamin

Baca Juga: Argo Pantes Groundbreaking Gudang Rp120 Miliar untuk J&T Cargo

Ia menambahkan, keberadaan kawasan ini juga membuka peluang kolaborasi antarpetambak serta mendorong peningkatan hasil produksi secara berkelanjutan.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono optimis industri udang nasional akan terus tumbuh, seiring tingginya permintaan pasar global akan komiditas tersebut. Untuk itu, KKP melahirkan sejumlah program untuk peningkatan produktivitas pembudidaya, salah satunya modeling budidaya udang berbasis kawasan  yang proses produksinya mengedepankan teknologi dan ramah lingkungan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya