- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Bahlil Buka-bukaan Sulitnya Pulihkan Listrik Aceh: Jalan Putus, Mobil PLN Tak Bisa Masuk
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemulihan total infrastruktur kelistrikan di wilayah terdampak bencana Aceh dan Sumatera Utara sangat bergantung pada percepatan perbaikan infrastruktur jalan.
Bahlil menegaskan, meskipun jaringan tulang punggung (backbone) tegangan tinggi telah berhasil dinormalkan, distribusi listrik ke level konsumen (tegangan rendah) masih terhambat karena akses darat yang terputus total.
"Terutama di empat kabupaten ya, di Tamiang, kemudian di beberapa kabupaten lain yang jalannya putus itu mobil PLN enggak bisa masuk. Nah ini memang harus ada cara-cara yang berbeda. Di saat bersamaan masih banyak rumah yang tergenangi dengan air," ujar Bahlil dalam sesi wawancara, Selasa (30/12/2025).
Baca Juga: Bahlil Targetkan RI Setop Impor Solar di 2026, Ini Syaratnya
Bahlil memaparkan besarnya skala kerusakan infrastruktur energi di lapangan. Di beberapa titik di Bireuen, lebar sungai yang semula hanya 150 meter meluas hingga 1 kilometer, yang mengakibatkan sepuluh unit SUTET hanyut terbawa arus.
Medan yang terisolasi memaksa Kementerian ESDM dan PLN melakukan mobilisasi material menggunakan jalur udara karena ketiadaan akses darat.
"Maka apa yang kita lakukan? Yang pertama adalah kita harus menyelesaikan dulu pembangunan infrastrukturnya. Dan tower-tower itu enggak bisa diangkut pakai darat. Jadi jaraknya cuma 1,7 kilo tapi enggak bisa kita angkut pakai darat, karena enggak ada jalan yang tembus. Maka apa yang terjadi? Kita angkut pakai helikopter," jelas Bahlil.
Ia menambahkan bahwa untuk mengangkut beban material sebesar 35 ton, pemerintah mengerahkan lima unit helikopter setiap hari dengan tantangan pasokan avtur yang juga terbatas di lokasi bencana.
Baca Juga: Kelistrikan Aceh Kembali Membaik, PLN Terus Percepat Pemulihan Masjid Pasca Bencana
Hingga saat ini, pemulihan di sektor tegangan tinggi diklaim sudah tidak menemui kendala teknis. Namun, tantangan besar masih ada pada jaringan tegangan rendah yang langsung menuju ke rumah pelanggan. Tercatat masih ada sekitar 220 desa dan 30.000 rumah di Aceh yang belum teraliri listrik secara permanen.
"Sekarang yang menjadi isu itu adalah jaringan tegangan rendah. Nah itu enggak akan bisa kalau infrastruktur dasarnya untuk kita bangun tiang-tiangnya belum bisa kita lakukan. Jadi harus jalannya jadi dulu baru kita lakukan. Yang kedua airnya mereda dulu baru bisa kita lakukan," tegasnya.
Sebagai solusi darurat, pemerintah telah mengirimkan 1.000 unit genset untuk memasok listrik di tenda pengungsian, serta mendistribusikan 3.000 kompor gas untuk membantu kebutuhan dasar warga.
Bahlil menekankan bahwa kepemimpinan di lapangan (boots on the ground) menjadi kunci dalam manajemen krisis energi. Ia menyebut rapat-rapat strategis seringkali dilakukan di lokasi terdampak untuk memotong birokrasi dan mempercepat eksekusi.
Baca Juga: PLN Sebut Kecepatan Pulihnya Listrik Aceh Tergantung Akses Jalur Darat
"Saya lakukan rapat itu di pinggir kali, di tenda-tenda itu kita memutuskan cepat untuk melakukan. Jadi menurut saya leadership itu justru ada ketika di lapangan. Enggak boleh enggak, harus turun. Karena antara apa yang dilaporkan oleh bawahan, belum tentu sama dengan di lapangan," pungkas Bahlil.
Pemerintah menargetkan pemulihan akan terus meningkat secara bertahap seiring dengan surutnya genangan air dan terbukanya akses logistik darat oleh kementerian teknis terkait.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Djati Waluyo
Advertisement