Kredit Foto: BPMI Setpres
Staf Khusus Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Bidang Percepatan Pembangunan, Irjen Pol Arif Rachman, mengungkapkan Aceh Tamiang saat ini menjadi fokus dalam percepatan pemulihan konektivitas yang rusak akibat bencana.
Dan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan telah menurunkan tim ahli guna mempercepat penanganan dampak banjir bandang dan longsor di wilayah utara Sumatra, dengan fokus utama Aceh Tamiang.
Baca Juga: Upaya Kementerian UMKM Percepat Pemulihan Ekonomi Bagi UMKM di Sumatera
“Atas instruksi Bapak Menko, kami langsung berangkat bersama tim ahli yang berjumlah 26 personel, sekaligus membawa bantuan logistik untuk mempercepat penanganan di titik-titik paling krusial,” ujar Stafsus Arif, dikutip dari siaran pers Kemenko Infra, Selasa (3/12).
Stafsus Arif menjelaskan, salah satu fokus utama dalam fase tanggap darurat adalah pemulihan konektivitas wilayah yang terputus akibat rusaknya infrastruktur jembatan. Untuk itu, Kemenko Infra menyiapkan pembangunan jembatan perintis di Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, dengan bentang sekitar 250 meter.
“Karena bentang jembatan melebihi 100 meter, sementara ini kami menggunakan jembatan perintis agar konektivitas antarwilayah bisa segera dipulihkan,” jelasnya.
Jembatan tersebut dirancang dapat dilalui oleh pejalan kaki, kendaraan roda dua, serta gerobak pengangkut logistik, sehingga distribusi bantuan dari Aceh Tamiang menuju Aceh Timur dapat kembali berjalan. Selama proses pembangunan berlangsung, pengiriman bantuan masih dilakukan menggunakan perahu karet.
Selain penanganan konektivitas, tim Kemenko Infra juga membawa instalasi pengolahan air bersih yang dikembangkan bersama Kementerian Kesehatan. Sistem ini memanfaatkan air sungai yang dipompa secara portabel, kemudian ditampung dan diendapkan selama 20–25 menit.
“Air hasil pengolahan ini minimal dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan MCK. Untuk air minum, masih diperlukan proses lanjutan oleh tim Kemenkes,” ujar Stafsus Arif.
Kemenko Infra turut membawa contoh rumah modular knockdown berbahan beton ringan yang dirancang agar mudah dirakit dan mempercepat penyediaan hunian sementara bagi warga terdampak. Meski demikian, Stafsus Arif menegaskan bahwa saat ini prioritas utama tetap pada pemulihan jembatan dan akses wilayah.
“Ini masih rumah contoh. Fokus utama kami tetap memastikan konektivitas agar distribusi logistik tidak terhambat,” katanya.
Lebih lanjut, Stafsus Arif menyampaikan bahwa meskipun bantuan juga disalurkan ke wilayah Sumatra Utara dan Sumatra Barat, Aceh—khususnya Aceh Tamiang—menjadi prioritas karena masih terdapat sejumlah daerah yang terisolasi.
“Semua wilayah terdampak menjadi perhatian, namun Aceh membutuhkan percepatan penanganan saat ini,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Advertisement