Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Wall Street Melemah, Investor Cermati Arah The Fed dan Risiko Geopolitik di 2026

Wall Street Melemah, Investor Cermati Arah The Fed dan Risiko Geopolitik di 2026 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bursa Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup melemah pada perdagangan di Selasa (30/12). Hal ini menyusul sesi ber-volume tipis menjelang libur, menandai akhir yang tenang dari tahun yang penuh volatilitas dari 2025.

Dilansir dari Reuters, Rabu (31/12), Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,20% ke 48.367,06. Indeks S&P 500 melemah 0,14% ke 6.896,23. Sementara Nasdaq Composite turun 0,23% ke 23.419,08.

Baca Juga: Jual Habis Saham Exspan Petrogas Intranusa, MEDC Raup Rp24,17 Miliar

Meski ditutup melemah, ketiga indeks utama bursa saham masih berada dalam jalur untuk membukukan kenaikan dua digit sepanjang tahun. Pasar telah melewati berbagai tekanan, mulai dari perang tarif, penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah, hingga ketegangan geopolitik yang berlarut-larut dari AS.

“Pada akhirnya, laba perusahaan yang solid bisa menutupi banyak masalah,” kata Kepala Strategi Pasar Carson Group, Ryan Detrick.

“Pada tahun ini, kinerja laba yang kuat telah membenarkan reli pasar saham yang kita lihat sepanjang tahun ini," tambahnya.

Detrick menambahkan bahwa sejauh ini belum terlihat tanda-tanda besar yang mengindikasikan resesi. Ia optimistis kondisi pasar tenaga kerja akan membaik dan pasar bullish masih berpotensi berlanjut pada 2026.

Risalah Federal Reserve (The Fed) tahun ini menunjukkan sebagian besar pejabat sepakat untuk memangkas suku bunga. Namun, perdebatan mengenai risiko yang dihadapi perekonomian menyoroti perbedaan pandangan yang cukup tajam di antara para pembuat kebijakan.

“Risalah The Fed semakin menegaskan bahwa ada dua pandangan yang berseberangan terkait arah kebijakan ke depan, dan perbedaan ini kemungkinan akan terus melebar,” ujar Detrick.

Menurutnya, inflasi masih relatif tinggi, sementara pasar tenaga kerja mulai melemah, sehingga membuka ruang bagi pemangkasan suku bunga pada 2026.

Baca Juga: Asing Jualan Rp937,79 Miliar di Akhir 2025, Saham-saham Ini Jadi Korbannya

Penyelesaian Rusia-Ukraina kembali diwarnai ketegangan setelah adanya tuduhan penyerangan terhadap kediaman dari Presiden Rusia Vladimir Putin. Ukraina membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai rekayasa untuk menggagalkan proses perdamaian dari Rusia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Advertisement

Bagikan Artikel: