Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

AS Dongkrak Surplus, China Malah Tekan Neraca Dagang RI

AS Dongkrak Surplus, China Malah Tekan Neraca Dagang RI Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Amerika Serikat menjadi negara penyumbang surplus terbesar neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada periode tersebut membukukan surplus sebesar US$38,54 miliar, yang terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas.

“Surplus sepanjang Januari hingga November 2025 ini ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$56,15 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$17,61 miliar,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini saat acara Jumpa Pers Berita Resmi Statistik (BRS), Jakarta, Senin (5/1/2026).

Pudji menjelaskan, kontribusi terbesar surplus neraca perdagangan Indonesia berasal dari perdagangan dengan Amerika Serikat. Berdasarkan data BPS, Negeri Paman Sam menyumbang surplus sebesar US$16,54 miliar dalam neraca perdagangan total, baik migas maupun nonmigas.

Baca Juga: BPS Catat Surplus Dagang RI Tembus US$2,66 Miliar

“Untuk neraca perdagangan total, yaitu migas dan nonmigas, tiga negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat sebesar US$16,54 miliar,” sambungnya.

Selain Amerika Serikat, India menempati posisi kedua sebagai penyumbang surplus terbesar dengan nilai US$12,06 miliar, disusul Filipina di posisi ketiga sebesar US$7,81 miliar.

Dominasi Amerika Serikat sebagai kontributor surplus juga tercermin lebih kuat pada neraca perdagangan nonmigas. BPS mencatat, surplus perdagangan nonmigas Indonesia dengan Amerika Serikat mencapai US$19,21 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan surplus dengan India sebesar US$12,16 miliar dan Filipina sebesar US$7,71 miliar.

Baca Juga: BPS Ungkap Inflasi Capai 2,92% Sepanjang 2025

Di sisi lain, Pudji menyoroti masih besarnya defisit neraca perdagangan Indonesia dengan sejumlah negara mitra dagang utama, terutama Tiongkok. Dalam neraca perdagangan total, Tiongkok tercatat menjadi penyumbang defisit terdalam.

“Sedangkan negara penyumbang defisit terdalam adalah Tiongkok sebesar -US$17,74 miliar, Australia sebesar -US$5,04 miliar, yang ketiga adalah Singapura sebesar -US$4,66 miliar,” tutur Pudji.

Kondisi serupa juga terjadi pada neraca perdagangan nonmigas. Tiongkok kembali mencatatkan defisit terbesar bagi Indonesia dengan nilai minus US$19,28 miliar. Posisi berikutnya ditempati Australia dengan defisit minus US$4,33 miliar dan Brasil sebesar minus US$1,65 miliar.

Data BPS tersebut menunjukkan peran signifikan Amerika Serikat sebagai pasar ekspor utama Indonesia sepanjang 2025, khususnya untuk komoditas nonmigas, di tengah masih lebarnya defisit perdagangan dengan sejumlah negara mitra utama lainnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: