- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Bahlil Pangkas Produksi Batu Bara Nasional, IATA Justru Bidik Produksi Naik Dua Kali Lipat di 2026
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Direktur PT MNC Energy Investments Tbk (IATA), Suryo Eko Hadianto, angkat bicara mengenai mencuatnyaa isu pemangkasan produksi batu bara nasional untuk tahun 2026. Meski pemerintah memberi sinyal pengetatan, IATA tetap melayangkan target produksi yang ambisius dalam rencana kerja tahun ini.
Langkah ini merespons rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang bakal menyesuaikan output batu bara nasional ke level 600 juta ton. Angka ini merosot signifikan dibandingkan total produksi tahun 2025 yang menembus 790 juta ton. Menanggapi kebijakan tersebut, Suryo memilih bersikap normatif dan menghormati wewenang regulator.
"Yang terkait dengan RKAB, saya tidak mau berkomentar banyak. Angka RKAB mau dikeluarkan berapa produksi nasional, mau dikeluarkan berapa, ranahnya ada di kebijakan pemerintah. Kita akan ikutin," ujar Suryo dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga: Buka-bukaan, Bos IATA Sebut Punya Cadangan Batubara 301,8 Juta Ton
Walau RKAB 2026 masih dalam proses finalisasi di meja kementerian, Suryo mengungkapkan bahwa perusahaan saat ini sudah resmi beroperasi memanfaatkan kuota relaksasi sebesar 25% yang berlaku hingga 31 Maret 2026.
Sebagai informasi, sepanjang tahun 2025, IATA membukukan realisasi produksi (coal getting) sebesar 3,37 juta ton. Angka ini sekitar 80% dari target RKAB 2025 yang dipatok sebesar 4,2 juta ton.
Memasuki tahun 2026, IATA justru tancap gas. Dalam pengajuan RKAB terbarunya, perseroan membidik total produksi sebesar 7,85 juta ton, atau melonjak hampir dua kali lipat dari realisasi tahun lalu. Target tersebut bersumber dari blok PMC sebesar 3,7 juta ton, APE 3 juta ton, dan IBPE 1,1 juta ton.
"Dalam pengajuan kami di RKAB tahun 2026, in total produksi IATA adalah 7,85 juta ton. Angka ini masih sangat tentatif atau subject to dari persetujuan Menteri ESDM," jelas Suryo.
Di sisi lain, kebijakan restriksi produksi yang diambil pemerintah bukan tanpa alasan.
Baca Juga: Produksi Batubara IATA Tembus 3,38 Juta Ton di 2025
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa evaluasi kuota RKAB merupakan langkah darurat untuk menyelamatkan harga batu bara global yang kian tertekan akibat banjir pasokan.
Bahlil menyoroti dominasi Indonesia yang menguasai sekitar 43% pasar batu bara dunia, atau menyumbang 514 juta ton dari total perdagangan global sebesar 1,3 miliar ton. Ketimpangan ini dianggap merusak stabilitas pasar.
“Akibatnya apa? Supply dan demand itu tidak terjaga, akhirnya harga batu bara turun. Lewat kesempatan yang berbahagia ini, ESDM sudah saya rapatkan dengan Dirjen Minerba, kita akan melakukan revisi daripada kuota RKAB. Jadi produksi kita, kita akan turunkan,” tegas Bahlil.
Meski angka 600 juta ton tengah dikaji secara teknis, Bahlil mewanti-wanti bahwa angka tersebut belum bersifat permanen.
“Pak Dirjen Minerba lagi menghitung. Yang jelas ya di sekitar 600 juta lah. Sekitar itu. Batu bara. Ya kurang lebih lah ya. Bisa kurang, bisa lebih dikit. Catatnya kurang lebih ya, jangan bilang 600 pasti. Nanti judulnya wartawan bilang RKAB batu bara pasti 600, kan bahaya itu,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement