Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Danantara Indonesia menilai saham-saham badan usaha milik negara (BUMN) masih memiliki ruang kenaikan pada 2026, seiring pasar mulai merespons langkah restrukturisasi dan perbaikan fundamental di sejumlah emiten pelat merah.
Sejumlah saham BUMN besar seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), Telkom Indonesia (TLKM), Krakatau Steel (KRAS), dan Timah (TINS) dinilai berpotensi melanjutkan penguatan apabila proses pembenahan operasional dan neraca berjalan konsisten.
Dalam Danantara Economic Outlook 2026, disebutkan bahwa 2026 akan menjadi tahun pembuktian bagi reformasi BUMN yang mulai digulirkan pada 2025. Jika tahun sebelumnya difokuskan pada restrukturisasi, maka pasar pada 2026 akan menjadi pembuktian dari eksekusi dan kinerja operasional.
“Jika 2025 adalah tahun membangun fondasi reformasi, maka 2026 adalah tahun ketika pasar akan menuntut bukti eksekusi,” tulis Danantara dalam laporannya, Jakarta, Senin (12/1/2026).
Baca Juga: Danantara Optimistis Ekonomi RI Terjaga di 2026
Danantara mencatat sinyal awal kepercayaan pasar sudah mulai terlihat. Pergerakan harga saham dalam enam bulan terakhir PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) naik 28,87%, PT Timah Tbk (TINS) yang melonjak 239,51%, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terbang 61,19%, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melesat 30,86% menunjukkan bahwa investor mulai merespons narasi turnaround yang dinilai kredibel. Namun demikian, Danantara menegaskan bahwa ini bukan siklus bailout, melainkan proses operational and balance sheet reset yang menuntut disiplin dan akuntabilitas.
Dari sisi pasar, data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan sekitar 22,31% sepanjang 2025, mencerminkan membaiknya sentimen investor terhadap aset berisiko. Meski demikian, kinerja sejumlah saham blue chip, termasuk BUMN, dinilai belum sepenuhnya mencerminkan potensi perbaikan fundamental jangka menengah.
Berdasarkan data konsensus pasar dan riset sejumlah pelaku industri, valuasi indeks saham berkapitalisasi besar seperti IDX30 masih berada di bawah rata-rata historisnya, sehingga membuka peluang re-rating apabila perbaikan kinerja emiten terealisasi secara berkelanjutan.
Baca Juga: Danantara Prediksi Kinerja Bank BUMN akan Membaik di 2026
Danantara menilai pasar semakin selektif dalam menilai saham BUMN. Tidak semua emiten diperkirakan menikmati kenaikan seragam. Emiten yang mampu menunjukkan kemajuan nyata dalam perbaikan neraca, efisiensi operasional, dan tata kelola dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menarik minat investor.
“Ini bukan tentang status kepemilikan negara, tetapi tentang eksekusi reformasi, konsolidasi, dan akuntabilitas operasional,” tulis Danantara.
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa proses konsolidasi BUMN yang sedang berlangsung berpotensi menjadi katalis struktural bagi pasar. Penyederhanaan jumlah BUMN dan pengurangan fragmentasi dinilai dapat meningkatkan efisiensi modal, memperbaiki tata kelola, serta pada akhirnya meningkatkan nilai bagi pemegang saham dalam jangka panjang.
Dengan total aset BUMN yang secara kolektif setara dengan lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia, Danantara menilai perbaikan kinerja BUMN akan memiliki implikasi luas, tidak hanya bagi pasar saham, tetapi juga bagi prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski peluang masih terbuka, Danantara menegaskan bahwa 2026 akan menjadi fase krusial. Pasar diperkirakan tidak lagi hanya merespons narasi reformasi, melainkan menuntut hasil nyata dari proses restrukturisasi yang telah dimulai sejak 2025.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Advertisement