Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan dekat level terendahnya pada Selasa (13/1). Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
Dilansir dari Reuters, Indeks Dolar (DXY) terakhir tercatat di 98,92. Langkah Trump dinilai mengancam independensi bank sentral dan kepercayaan terhadap aset-aset dari AS.
Baca Juga: Ekonom: Kriminalisasi Powell Jadi Ancaman Terhadap Independensi The Fed
Investor masih berusaha mencerna dampak dari penyelidikan tersebut karena menandai eskalasi signifikan dalam upaya pemerintah menekan bank sentral agar memangkas suku bunga lebih cepat.
Reaksi pasar terlihat melalui aksi jual dolar dan obligasi pemerintah, sementara meningkatnya ketidakpastian juga mendorong sebagian investor beralih ke emas sebagai aset lindung nilai. Namun, tekanan pasar kali ini dinilai jauh lebih terbatas dibandingkan gejolak besar akibat kebijakan tarif,
“Episode ini relatif ringan, dengan pelemahan dolar dan obligasi yang masih terbatas, karena pasar kemungkinan menilai ini sebagai ancaman politik yang akan berlalu,” kata Kepala Riset Makro Mizuho untuk Asia, Vishnu Varathan.
Langkah terbaru pemerintahan tersebut sejauh ini tidak banyak mengubah ekspektasi pasar terhadap dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, namun menimbulkan pertanyaan serius terkait otonomi bank sentral yang selama ini menjadi fondasi kebijakan ekonomi dari AS.
Baca Juga: Dinginnya Respons Trump Soal Kriminalisasi Bos The Fed
Fitch Ratings menyatakan bahwa independensi bank sentral merupakan salah satu faktor pendukung utama bagi peringkat utang negara dari AS. Hal itu menegaskan pentingnya kredibilitas bank sentral bagi stabilitas keuangan dan kepercayaan investor global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Advertisement