Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Fenomena Kaum Rebahan dan Migrasi Baru Asal Cina, Apakah Sebuah Perlawanan Terselubung?

Fenomena Kaum Rebahan dan Migrasi Baru Asal Cina, Apakah Sebuah Perlawanan Terselubung? Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Fenomena “kaum rebahan” semakin marak di Cina. Sebagian masyarakat di Cina mencanangkan gaya hidup santai yang dikenal dengan sebutan “tangping atau “rebahan”. Mereka pergi meninggalkan kota besar dan hidup di kota kecil dengan lingkungan yang jauh lebih menyenangkan dengan tekanan lebih rendah. 

Demikian pemaparan sinolog terkemuka yang mengajar di Budapest University of Economics (Corvinus), Budapest, dan Vrije Universiteit (VU) Amsterdam, Prof. Dr. Pal Nyiri, saat menjadi pembicara dalam seminar berjudul, “From Taojin To Tangping: Southeast Asia, Chinese Migration, and the Waves of China’s Re-globalisation", yang diselenggarakan bersama oleh Forum Sinologi Indonesia (FSI) dan Program Pasca Sarjana Ilmu Sosial Politik UPH di Jakarta.

Fenomena migran baru asal Republik Rakyat Cina (RRC), yang oleh para ahli ilmu sosial dijuluki sebagai fenomena xinyimin, bukan hanya mencakup fenomena kedatangan para pekerja asal negara itu untuk bekerja di berbagai proyek yang didanai pinjaman asal RRC. 

Memang, di Indonesia, kehadiran para pekerja asing asal RRC itu mendapatkan perhatian sangat besar bagi masyarakat. Pekerja RRC ini menghadirkan berbagai persoalan sosial, antara lain persaingan dengan pekerja nasional Indonesia, ketegangan dengan masyarakat setempat akibat perbedaan budaya, serta permasalahan legalitas, yang seringkali dilanggar oleh pihak asal RRC. 

Namun selain para pekerja itu, fenomena xinyimin merujuk pula kepada berbagai fenomena migrasi yang jauh lebih menarik untuk diamati dan dipelajari. Fenomena itu bukan hanya menjadi jendela untuk memahami kharakteristik masyarakat RRC secara lebih lengkap dan akurat.

Ini juga cerminan hubungan yang dinamis antara negara RRC, yang berada di bawah kekuasaan Partai Komunis Cina (PKC), dengan berbagai lapisan masyarakat, termasuk para pejabat dan pengusaha yang selama ini dipersepsikan sebagai simbol kesuksesan RRC. 

Baca Juga: Sesuai Target, Ekonomi China Tumbuh 5% di 2025

Melalui fenomena migrasi, kita yang tinggal di luar RRC memahami bahwa hubungan antara negara dan masyarakat di negara itu bukan sekadar diwarnai dengan ketaatan dan kepatuhan semata, tetapi juga dengan ketegangan dan perlawanan, meski perlawanan tersebut lebih bersifat perlawanan tersembunyi, dan bukan berupa konflik terbuka. 

Salah satu dari fenomena migrasi yang memperlihatkan adanya perlawanan tersembunyi terhadap pihak yang berkuasa di Cina adalah fenomena migrasi yang terkait erat dengan gaya hidup santai, yang dikenal dengan istilah gaya hidup rebahan alias tangping. 

Migrasi ini dapat berupa trend di kalangan masyarakat kelas menengah dan kelas atas di RRC untuk mengirim anak-anak mereka untuk bersekolah di luar Cina, seperti di Thailand atau Malaysia, serta turut tinggal bersama mereka demi gaya hidup yang lebih santai. 

Pada saat yang sama, terdapat pula kecenderungan di kalangan kaum berada di Cina untuk memiliki perusahaan-perusahaan keluarga di luar negeri agar dapat memindahkan kekayaan dan keluarga mereka ke luar RRC, khususnya di negara-negara Asia Tenggara, seperti Singapura. 

Menurut Prof Nyiri, fenomena seperti yang tergambar di atas telah muncul sejak tahun 1990-an, ketika sejumlah pengusaha dan pejabat kaya di Cina mempersiapkan opsi penyelamatan untuk keluarga dan anak-anak mereka sebagai antisipasi bila terjadi permasalahan politik dan ekonomi di Cina. 

Gejala semacam ini meningkat drastis sejak Presiden Xi Jinping menerapkan tindakan keras terhadap perusahaan-perusahaan teknologi di tahun 2022. “Ini menyebabkan orang-orang kaya semakin merasa tidak aman (insecure) terhadap kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di masa datang, dan sebagai respons mereka membuat perusahaan-perusahaan keluarga di Singapura dan memindahkan kekayaan dan keluarga mereka keluar RRC,” tuturnya.

Prof Nyiri menjelaskan bahwa meningkatnya penghasilan, namun juga semakin tingginya harga real estate di Cina sejak 2008 menjadi salah satu faktor di balik fenomena di atas. Lagi pula, sejak 2010, Cina menghadapi berbagai persoalan yang menimbulkan ketidakpuasan dan kekhawatiran di kalangan warganya.

Antara lain, meningkatnya pengangguran di kalangan lulusan universitas, menurunnya fenomena peningkatan strata yang artinya semakin sulit bagi orang orang yang tidak lahir dari kalangan istimewa untuk memperoleh kesuksesan dalam masyarakat Cina.

Kemudian muncul fenomena involusi atau neijuan. Fenomena involusi ini merujuk pada fakta bahwa seorang di Cina harus melakukan investasi berlebih dalam hal uang dan waktu demi mempertahankan status sebagai kelas menengah. 

Baca Juga: China Cermati Akuisisi Startup AI Manus oleh Meta Senilai Rp33,8 Triliun

Berbagai permasalahan sosial di atas, dibarengi dengan kontrol politik yang ketat, membuat kelas menengah di Cina tidak menemukan kebahagiaan. Mereka memimpikan kebebasan. Meski tidak serta-merta melakukan oposisi terhadap pemerintah, mereka merasa keberatan diwajibkan untuk mempelajari ide-ide Xi Jinping dan berbagai hal lainnya. 

Sebagai respons terhadap keadaan tersebut, sebagian masyarakat di Cina mencanangkan gaya hidup santai yang dikenal dengan sebutan “tangping”atau “rebahan”. Mereka pergi meninggalkan kota besar dan hidup di kota kecil dengan lingkungan yang jauh lebih menyenangkan dengan tekanan yang lebih rendah. Namun sebagian dari mereka memilih untuk meninggalkan Cina. 

Menurut Prof Nyiri, fenomena ini semakin marak berlangsung sejak pandemi Covid 19, sebagai akibat dari kebijakan penguncian (lockdown) ketat yang dilaksanakan oleh RRC terhadap warganya. 

“Penguncian ini menimbulkan efek kejut (shock) yang dalam bagi orang-orang tertentu di Cina. Orang-orang yang memiliki gaya hidup kelas atas akhirnya menyadari bahwa pemerintah bisa saja membuat mereka terkurung. Intervensi ini sangat mengejutkan bagi generasi dan kelas (atas) ini, sehingga mereka mencari tujuan di luar Cina untuk berpindah,” ucap dia.

Prof Nyiri menyampaikan pandangannya bahwa terdapat hubungan erat antara fenomena migrasi baru asal Cina dengan kembalinya negara itu ke dalam tatanan ekonomi global. Fenomena migrasi itu bukan merupakan fenomena tunggal yang bersifat statis, melainkan sebuah fenomena yang dinamis sesuai dengan perkembangan situasi yang terjadi di Cina. 

Ia juga menjelaskan bagaimana migrasi baru di atas pertama kali muncul seiring dengan dicanangkannya reformasi ekonomi 1978 oleh Deng Xiaoping, yang saat itu membuat pernyataan bahwa hubungan dengan negara luar sebagai hal yang baik (haiwai guanxi shi ge hao dongxi). 

Sejak masa itu, muncullah fenomena migrasi dari RRC ke berbagai negara Asia Tenggara, dengan Laos dan Thailand sebagai tujuan utama. Sebagaimana disampaikan oleh Prof Nyiri, berbagai jenis migrasi asal Cina yang berlangsung sejak era reformasi ekonomi 1978 hingga dasawarsa pertama abad 21 dapat dipahami dengan logika produksi, dan dilatarbelakangi oleh motivasi memperoleh kekayaan alias taojin (mencari emas). 

Namun sejak 2010 hingga periode pasca Covid-19, terjadi sebuah fenomena yang sangat menarik untuk diamati, yaitu munculnya migrasi yang tidak berangkat dari motivasi mengumpulkan uang, tetapi untuk mendapatkan gaya hidup yang dianggap lebih nyaman, santai, dan tanpa tekanan yang berlebihan. 

Trend mengirimkan anak-anak untuk menempuh pendidikan di negara-negara Asia Tenggara demi membangun sebuah kehidupan keluarga yang lebih santai, sehat, dengan tekanan yang lebih sedikit, seperti diceritakan di atas termasuk dalam kategori migrasi semacam ini. "Migrasi model ini tak lagi terkait dengan logika produksi, tetapi reproduksi sosial,” tambah dia.    

Baca Juga: Beijing Gerak, Operasi Drone China Diam-diam Masuki Taiwan

Pengamat masalah Cina yang juga merupakan Ketua FSI, Johanes Herlijanto, menambahkan bahwa masyarakat Cina merupakan masyarakat yang beragam dan dinamis. Oleh karena itu, wacana bahwa pekerja asal Cina selalu memiliki etos kerja yang lebih baik dari pekerja Indonesia merupakan sebuah wacana yang tidak tepat, dan mengandung bias esensialis. 

Ia juga berpandangan bahwa kajian di atas memperlihatkan bahwa berbeda dari propaganda yang tersebar di media milik pemerintah RRC dan media sosial, Cina bukanlah sebuah negara tanpa permasalahan ekonomi dan sosial. 

Sebaliknya, berbagai permasalahan dari mulai pengangguran hingga ketatnya persaingan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di sana, yang memunculkan motivasi bagi kalangan tertentu untuk meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain. 

Dan yang tak kalah penting, sistem politik otoritarian yang diwarnai dengan intervensi berlebihan pemerintah ke dalam ranah ekonomi dan privat, ternyata menyebabkan kekecewaan dan ketidaksukaan di kalangan tertentu dalam masyarakat Cina. Mereka yang memiliki kemampuan ekonomi merespons kondisi di atas dengan melakukan perlawanan, meski perlawanan itu dilakukan secara tersembunyi. 

Sementara itu, pakar hubungan internasional Prof Edwin M. B. Tambunan beranggapan bahwa kehadiran fenomena tangping serta trend migrasi di kalangan para penganut gaya hidup di atas bukan sekadar perlawanan terhadap pihak-pihak yang berkuasa, tetapi bahkan terhadap nilai-nilai dan sistem yang telah diterapkan selama beberapa dasawarsa. 

“Kaum rebahan ini menolak untuk bekerja sangat keras demi meningkatkan taraf hidup dan kelas sosial mereka, tetapi justru melakukan resistensi (perlawanan) diam-diam, untuk menentang naratif yang dominan mengenai kesuksesan, produktivitas, dan progress," tutur dia.

Menurut akademisi yang memiliki kepakaran di bidang hubungan internasional ini, berbagai pertanyaan yang diajukan terkait munculnya fenomena tangping sebagai alternatif dari fenomena taojin yang telah lebih dahulu berlangsung selama beberapa dasawarsa sangat relevan bagi masyarakat hari ini. 

“Isu ini menjadi sangat relevan bagi kita yang berada dalam ketidakpastian global, yang ditandai dengan ketegangan-ketegangan geopolitik, rekonfigurasi ekonomi, disrupsi teknologi, dan pola globalisasi yang berubah,” ucap Prof. Edwin yang juga Dekan Fisip UPH itu.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: