Kredit Foto: BBC
Bitcoin mencatat pelemahan pada perdagangan di Selasa (20/1). Ia turun menembus level resistensi dari US$90.000. Hal ini seiring meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk-off) dalam pasar global.
Dilansir dari Coinmarketcap, Rabu (21/1), penurunan harga bitcoin dipicu oleh kembali mencuatnya isu tarif perdagangan serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang mendorong investor beralih ke aset aman. Ketegangan terbaru ini muncul akibat pernyataan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Baca Juga: Michael Saylor Isyaratkan Pembelian Bitcoin (BTC) Jumbo
Di tengah kondisi tersebut, harga emas dan perak menguat sebagai tujuan lindung nilai, sementara aset kripto justru tertinggal meskipun sebagian pasar saham global relatif stabil.
CEO VALR, Farzam Ehsani menilai tekanan pada aset digital saat ini lebih mencerminkan kerentanan spesifik pasar kripto, bukan semata-mata sentimen risk-off global.
“Modal bergerak ke aset aman yang sudah mapan, sementara kripto masih diperdagangkan sebagai aset berisiko tinggi,” ujar Ehsani.
Ia menambahkan, bitcoin berpotensi kesulitan bertahan di level tinggi tanpa sinyal pemangkasan suku bunga yang lebih jelas atau masuknya kembali arus dana institusional.
Tekanan terhadap aset berisiko juga diperkuat oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dari AS. Yield obligasi naik seiring aksi jual di pasar obligasi global yang dipicu kekhawatiran fiskal dan geopolitik.
Baca Juga: Prediksi Kripto 2026: 5 Prakiraan Utama Untuk Bitcoin dan Altcoin
Untuk sementara, pelaku pasar cenderung bersikap defensif dan menunggu katalis baru yang dapat mendorong pergerakan harga keluar dari fase volatilitas rendah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement