Kredit Foto: Azka Elfriza
PT Asuransi Candi Utama mulai membuka arah bisnisnya untuk 2026 setelah menutup 2025 dengan pertumbuhan premi sebesar 12% di tengah kondisi ekonomi yang belum menunjukkan percepatan signifikan.
Arah tersebut disampaikan Direktur Utama PT Asuransi Candi Utama, Budi Herawan, dalam wawancara eksklusif dengan Warta Ekonomi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Kuningan, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Capaian kinerja 2025 menjadi pijakan awal perusahaan dalam menyusun strategi ke depan. Budi menegaskan, pertumbuhan tersebut diraih melalui konsistensi dalam menjaga lini bisnis dan pengelolaan risiko.
“Di 2025 dengan kerja keras, kita bisa tumbuh di atas industri. Berapa persennya? 12%. Itu satu prestasi. Dan tingkat profitabilitasnya juga di atas rata-rata,” ujarnya.
Fondasi tersebut tercermin pada kinerja keuangan perusahaan sepanjang 2025. Asuransi Candi membukukan laba bersih sebesar Rp18,75 miliar pada Desember 2025, tumbuh 3,74% secara year on year (yoy). Pada periode yang sama, pendapatan premi meningkat 35,21% menjadi Rp400,48 miliar, sementara underwriting naik 2,24% menjadi Rp50,29 miliar.
Kinerja tersebut turut mendorong total aset perusahaan tumbuh 17,18% menjadi Rp837,03 miliar. Bagi manajemen, capaian ini tidak sekadar mencerminkan pertumbuhan, tetapi juga menjadi tolok ukur stabilitas di tengah tekanan ekonomi global dan domestik yang masih berlangsung.
Asuransi Harta Benda Masih Jadi Tulang Punggung
Berangkat dari fondasi tersebut, Asuransi Candi memilih untuk menjaga fokus pada bisnis inti yang secara struktural masih mendominasi industri asuransi umum. Budi menegaskan, perusahaan tidak menempuh ekspansi agresif lintas segmen, melainkan mengonsolidasikan portofolio pada lini yang memberikan kontribusi paling stabil.
“Memang kalau kita lihat kue di industri ini, yang masih paling besar adalah harta benda,” tuturnya.
Asuransi harta benda tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan, terutama karena kuatnya permintaan dari segmen korporasi. Menurut Budi, korporasi memiliki kebutuhan yang tidak terelakkan untuk melindungi aset, baik untuk kepentingan internal maupun untuk memenuhi persyaratan pihak ketiga seperti perbankan.
“Korporasi mau tidak mau harus memberikan satu pelindungan proteksi terhadap aset-asetnya. Itu yang menjadi peluang bagi kita,” ujarnya.
Di luar asuransi harta benda, kontribusi juga datang dari lini marine cargo, kapal, dan kendaraan bermotor. Namun, Budi mengakui adanya perubahan dinamika pasar, khususnya pada segmen kendaraan bermotor yang tengah mengalami kontraksi.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari pertimbangan perusahaan dalam menata portofolio bisnis, dengan tetap mempertahankan segmen-segmen yang memberikan kontribusi signifikan sekaligus menjaga keseimbangan risiko.
Dengan struktur bisnis tersebut, Asuransi Candi mulai menatap 2026 dengan target pertumbuhan double digit. Budi menegaskan, target tersebut tidak disusun secara reaktif, melainkan melalui perencanaan berjenjang yang mencakup sasaran jangka pendek, menengah, dan panjang.
“Kita punya short term, mid term, dan long term target dan semuanya sudah kita orkestrasikan,” ujarnya.
Pendekatan ini, menurut dia, menjadi penting agar pertumbuhan yang dikejar tetap selaras dengan visi pemegang saham dan manajemen, sekaligus menjaga kesinambungan bisnis.
Mitra Global untuk Mempercepat Pertumbuhan
Dalam kerangka pencapaian target tersebut, pencarian mitra strategis berskala global menjadi salah satu agenda utama. Budi menilai, keberadaan mitra dengan visi dan penetrasi internasional dapat mempercepat pertumbuhan perusahaan serta meningkatkan reputasi di industri.
“Kalau kita mempunyai strategic partner yang visi-misinya worldwide dan penetrasinya tidak hanya di Indonesia, perusahaan ini tentunya akan cepat bertumbuh dan disegani,” katanya.
Namun, strategi pertumbuhan tersebut dijalankan dengan kesadaran penuh terhadap tantangan eksternal. Budi menyoroti kondisi ekonomi yang cenderung stagnan, yang tercermin dari indikator-indikator makro yang belum bergerak signifikan.
“Kalau kita melihat indikator-indikator ekonomi ini, indikatornya semuanya jalan di tempat,” ujarnya.
Situasi ini mendorong perusahaan untuk semakin selektif dalam mengelola risiko dan menentukan sumber pertumbuhan premi, agar ekspansi tidak berujung pada peningkatan tekanan klaim.
Manajemen Risiko sebagai Benang Merah
Dalam konteks tersebut, manajemen risiko menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh strategi bisnis Asuransi Candi. Budi menekankan peran krusial fungsi underwriting, klaim, dan distribusi dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.
“Kalau klaimnya memang genuine dan dijamin dalam polis, ya harus kita bayar sesuai ketentuan polis,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya mitigasi risiko sejak awal, terutama di tengah meningkatnya frekuensi bencana alam dan dampak perubahan iklim. “Kalau dari awal melakukan spreading of risk dengan baik, semuanya akan terakumulasi dengan baik,” ujarnya.
Di luar tantangan internal, Budi menilai industri asuransi nasional masih dihadapkan pada rendahnya literasi dan inklusi. Bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah pada akhir 2025 menjadi pengingat besarnya protection gap di Indonesia.
“Ini wake up call bagi kita semua bahwa protection gap masih tinggi,” ujarnya.
Pada saat yang sama, konsolidasi perusahaan asuransi BUMN yang diproyeksikan berlangsung hingga 2027 dipandang membuka peluang bagi perusahaan swasta. Perubahan risk appetite pascakonsolidasi berpotensi menciptakan ruang pasar baru.
“Belum tentu yang melakukan konsolidasi mempunyai risk appetite yang sama. Siapa yang akan menangkap risiko-risiko yang selama ini mereka kelola?” tuturnya.
Meski demikian, Budi menegaskan bahwa pemetaan risiko tetap menjadi kunci agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan selaras dengan strategi bisnis perusahaan ke depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement