- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Cetak Rekor, Rupiah Masih Tertekan: Faktor Ekspektasi dan Modal Asing Jadi Penentu
Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan level tertinggi sepanjang masa (all time high), namun penguatan pasar saham tersebut belum diikuti stabilitas nilai tukar rupiah.
Mata uang Garuda masih berada di bawah tekanan, mencerminkan perbedaan respons pasar saham dan pasar keuangan lainnya terhadap kondisi ekonomi domestik dan global.
Senior Macro Strategist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menjelaskan bahwa perbedaan arah pergerakan IHSG dan rupiah terutama dipengaruhi oleh faktor ekspektasi investor, khususnya investor asing, terhadap kondisi fiskal dan pasar keuangan Indonesia.
“Ini kita bicara mengenai faktor ekspektasi. Asing itu masih khawatir, kemarin itu defisit kita 2,92 persen, maka ada tekanan di bond market dan itu juga mempengaruhi rupiah,” ujar Fithra, dikutip Minggu (25/1/2025).
Menurut dia, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari kekhawatiran investor global terhadap posisi fiskal, meski defisit anggaran masih dijaga di bawah ambang batas 3 persen. Kekhawatiran tersebut tercermin dari pergerakan pasar obligasi, yang kemudian berdampak pada nilai tukar.
Baca Juga: Rupiah Hampir Sentuh Rp17 Ribu per Dolar AS, Purbaya Yakin Tak Picu Krisis Ekonomi, Kenapa?
Di sisi lain, penguatan IHSG didorong oleh prospek kinerja emiten dan potensi imbal hasil ekuitas (return on equity) yang dinilai masih menarik.
Fithra menyebut, investor saham melihat peluang pertumbuhan laba perusahaan di tengah upaya pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi.
“Kita bicara mengenai potensi return on equity emiten. Ini yang bergerak,” katanya.
Selain faktor fundamental emiten, arus dana asing juga dipengaruhi oleh ekspektasi masuknya Indonesia dalam indeks global, khususnya melalui momentum MSCI rebalancing.
Fithra menilai mekanisme indeks global menjadi salah satu pendorong utama aliran dana ke pasar saham, terlepas dari tekanan yang masih terjadi di pasar obligasi dan nilai tukar.
“Mungkin salah satunya karena mau masuk MSCI, ini MSCI rebalancing,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa masuknya saham-saham Indonesia ke dalam indeks MSCI berpotensi mendatangkan aliran dana asing dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Bahkan, dalam satu hari perdagangan, arus masuk dana asing dapat mencapai sekitar US$2 miliar.
“Kalau sudah masuk MSCI, biasanya hari itu saja US$2 miliar masuk,” katanya.
Menurut Fithra, aliran dana tersebut dapat membantu menstabilkan rupiah dengan biaya yang relatif rendah dibandingkan intervensi moneter konvensional, seperti penggunaan cadangan devisa dalam jumlah besar.
“Artinya ongkos moneter enggak usah banyak-banyak, enggak usah foreign exchange reserve keluar banyak-banyak, rupiah bisa lebih stabil,” ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Lengket ke Rp17.000, BI Gencarkan Intervensi Pasar
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa peluang tersebut perlu didukung oleh kebijakan regulator pasar modal. Fithra menyoroti pentingnya menjaga stabilitas perdagangan saham selama periode review indeks global agar peluang masuknya dana asing tidak terganggu.
“Kalau bisa difasilitasi, jangan ditahan-tahan. Dalam periode review jangan ada yang mati, disuspensi dulu. Karena yang bekerja itu algoritma asing,” katanya.
Selain MSCI, indeks global lain seperti FTSE juga dinilai memberikan peluang ekonomi yang signifikan melalui mekanisme serupa.
Menurut Fithra, terdapat beberapa window rebalancing indeks global setiap tahun yang dapat dimanfaatkan untuk menarik arus modal asing dan memoderasi pergerakan rupiah yang volatil.
Di tengah tekanan eksternal, pemerintah disebut berupaya menjaga kredibilitas fiskal dengan mempertahankan defisit anggaran di bawah 3 persen. Fithra mengungkapkan bahwa komitmen tersebut juga disampaikan langsung kepada investor obligasi asing dalam pertemuan dengan pelaku pasar global.
“Saya sampaikan ke bond investor asing, pemerintah mencoba bertahan di threshold less than 3 persen,” ujarnya.
Menurut Fithra, kunci menjaga kepercayaan investor bukan hanya disiplin fiskal, tetapi juga memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Pertumbuhan dinilai menjadi fondasi utama bagi kinerja emiten dan stabilitas pasar keuangan secara keseluruhan.
“Intinya adalah growth. Kalau ada growth, ada return on equity, emiten suka, rakyat juga suka karena ada pertumbuhan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa stabilitas pasar keuangan tidak dapat dipisahkan dari kualitas pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan yang inklusif dinilai penting agar manfaat penguatan pasar saham tidak hanya dinikmati investor, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan masyarakat luas.
Dengan demikian, perbedaan arah antara IHSG yang mencetak rekor dan rupiah yang masih tertekan mencerminkan dinamika ekspektasi investor global. Pasar saham merespons prospek laba dan indeks global, sementara nilai tukar masih sensitif terhadap risiko fiskal, pasar obligasi, dan sentimen global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait:
Advertisement