Jepang Dinilai Belum Perlu Intervensi Yen: Dukungan Amerika Serikat (AS) Redam Tekanan Pasar
Kredit Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Jepang diperkirakan belum akan melakukan intervensi langsung dalam pasar valuta asing, menyusul dukungan Amerika Serikat (AS). Koordinasi dengan negara itu dinilai sudah cukup efektif untuk menghentikan pelemahan yen yang berlangsung satu arah.
Eks Pejabat Bank Sentral Jepang, Atsushi Takeuchi mengatakan bahwa dugaan rate checks baru-baru ini merupakan sinyal kuat dukungan dari negara itu terhadap upaya menstabilkan yen. Aksi tersebut tergolong sangat jarang terjadi dan menunjukkan keseriusan kerja sama dari Amerika Serikat dan Jepang.
Baca Juga: Jepang Tegaskan Siap Ambil Tindakan Jika Yen Menguat Tajam
“Kehadiran Amerika Serikat membuat perbedaan besar karena pasar tahu mereka tidak seharusnya melawan ke The Fed,” kata Takeuchi, dilansir dari Reuters, Kamis (29/1).
Ia menjelaskan bahwa tujuan utama otoritas saat ini bukan mempertahankan level tertentu, melainkan mencegah pergerakan yen yang melemah secara tajam dan sepihak.
“Dengan dugaan rate checks yang membuat pasar tetap waspada dan mencegah pelaku pasar menguji batas bawah yen, pemerintah kemungkinan belum perlu melakukan intervensi langsung,” ujarnya.
Intervensi langsung menurutnya justru berisiko mempercepat penguatan yen dan dapat menekan pasar saham domestik. Hal itu dinilai tidak diinginkan pemerintah dari Jepang.
Yen sempat menguat tajam terhadap dolar dalam beberapa hari terakhir, dipicu spekulasi rate checks bersama dari Jepang dan AS. Langkah tersebut muncul setelah yen mendekati level psikologis penting yang oleh pasar dianggap meningkatkan peluang aksi pembelian yen oleh pemerintah Jepang.
Takeuchi menilai lonjakan nilai tukar yen yang terjadi belakangan merupakan bukti keberhasilan otoritas dalam memainkan perang psikologis terhadap pasar.
“Tugas terbesar diplomat mata uang Jepang adalah meningkatkan dan menjaga ketakutan pasar terhadap kemungkinan intervensi,” kata Takeuchi.
“Sejauh ini, Jepang berhasil melakukannya," tuturnya.
Baca Juga: Beijing Sebut Ucapan Sanae Takaichi Telah Rusak Hubungan China-Jepang
Jepang lebih sering berupaya menahan penguatan yen yang dapat merugikan ekonomi berbasis ekspor. Namun dalam beberapa tahun terakhir, fokus kebijakan bergeser ke mencegah pelemahan yen berlebihan, yang berpotensi memicu inflasi dan menggerus daya beli konsumen.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement