Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Laporan IASC Catat Kerugian Scamming dan Phishing Capai Rp9 T, Halo BCA Perkuat Ekosistem untuk Lindungi Nasabah

Laporan IASC Catat Kerugian Scamming dan Phishing Capai Rp9 T, Halo BCA Perkuat Ekosistem untuk Lindungi Nasabah Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) semakin mengintensifkan komitmennya dalam mengedukasi dan melindungi masyarakat dari risiko kejahatan siber yang kian kompleks. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan ekosistem layanan perbankan, salah satunya dengan mengoptimalkan peran Halo BCA sebagai pusat solusi keamanan digital yang responsif dan terintegrasi.

Hal tersebut ditegaskan oleh EVP Contact Center & Digital Service BCA, Adrianus Wagimin, dalam acara BCA Expoversary, Jumat (6/2/2026).

“Halo BCA tak hanya menjadi pusat informasi, tetapi juga pusat solusi yang responsif, terintegrasi, dan berfokus pada perlindungan nasabah di era digital,” jelas Adrianus.

Ia menambahkan, kemudahan transaksi digital juga diiringi peningkatan risiko kejahatan siber. Teknologi sering mendorong masyarakat bertindak cepat dan cenderung terburu-buru, yang membuat mereka rentan lengah dan kurang teliti, termasuk dalam bertransaksi keuangan.

“Banyak kasus yang dipicu oleh faktor tergesa-gesa, seperti salah transfer nominal, kelebihan pembayaran kartu kredit, hingga penipuan berbasis social engineering,” ujarnya.

Merujuk data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC/IISC), Adrianus menyebutkan terdapat lebih dari 400.000 laporan penipuan dengan total kerugian mencapai sekitar Rp9 triliun dalam periode terakhir. Pola penipuan umumnya terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu scamming dan phishing.

Pada modus scamming, pelaku biasanya menyamar sebagai institusi resmi seperti bank, aparat penegak hukum, atau instansi tertentu untuk mengelabui korbannya. Sementara phishing dilakukan dengan upaya mencuri data pribadi melalui tautan mencurigakan, situs palsu, atau komunikasi yang dirancang tampak meyakinkan.

Baca Juga: Tumbuh 98%, Laba Bersih BCA Digital Tembus Rp213,4 Miliar Sepanjang Tahun 2025

“Kalau phishing, pelaku berusaha mencuri data pribadi melalui tautan, situs palsu, atau komunikasi yang dibuat seolah-olah meyakinkan,” papar Adrianus.

Menekankan bahwa kejahatan digital dapat menimpa siapa saja tanpa memandang usia dan latar belakang, Adrianus mengimbau masyarakat untuk senantiasa waspada. Jika nasabah mendeteksi indikasi penipuan, mereka dapat segera menghubungi Halo BCA untuk melakukan verifikasi, pencatatan laporan, pemblokiran rekening, hingga koordinasi dengan berbagai pihak terkait seperti bank lain, platform e-commerce, dan otoritas regulator.

“Aplikasi ini kami rancang supaya nasabah bisa bertindak secepat mungkin ketika menghadapi risiko penipuan digital,” tegasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Bagikan Artikel: