Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pasar Game Indonesia Tembus Rp42 T, Presiden Xsolla: Perlu Infrastruktur dan Kepastian Regulasi

Pasar Game Indonesia Tembus Rp42 T, Presiden Xsolla: Perlu Infrastruktur dan Kepastian Regulasi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pasar game Indonesia saat ini mencapai nilai sekitar USD 2,5 miliar atau sekitar Rp42 triliun dan terus berkembang cepat. Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya bisa diakses oleh pengembang domestik. 

Sebagian besar pendapatan dari industri game di Tanah Air masih dikuasai oleh pengembang dari luar negeri, sementara sumbangsih studio lokal baru diperkirakan mencapai 3-5 persen.

Menurut Presiden Xsolla, Chris Hewish, kondisi ini tidak disebabkan oleh kurangnya bakat atau pendanaan awal, melainkan oleh hambatan struktural yang menghalangi kemampuan studio lokal untuk berkembang secara berkelanjutan.

“Indonesia memiliki talenta dan akses pendanaan awal. Tantangannya ada pada skala. Banyak studio mampu membuat game yang bagus, tetapi tidak memiliki struktur dan modal jangka panjang untuk membangun basis pengguna serta mengelola game dengan model live-service hingga benar-benar menghasilkan,” ujar Hewish dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (8/2/2026).

Dia menyebut, kesenjangan ini semakin melebar karena kurangnya infrastruktur dan sumber daya manusia yang mumpuni dalam mengelola game secara berkelanjutan. Padahal, kesuksesan sebuah game, terutama game mobile, sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola operasi live dalam jangka waktu yang lama.

Meskipun menjadi salah satu pasar game terbesar di dunia dilihat dari jumlah pemain dan unduhan, posisi Indonesia hingga saat ini masih sebagai pasar konsumen. Menurut Hewish, perubahan menuju produsen kekayaan intelektual (IP) game global memerlukan transformasi dalam pendekatan kebijakan dan ekosistem.

Dia menyoroti perlunya struktur pendanaan yang memberikan insentif bagi studio untuk mengembangkan game dalam jangka panjang, tidak hanya mendanai peluncuran satu judul game. Stabilitas dan kepastian regulasi juga menjadi faktor penting.

“Bukan soal banyak atau sedikitnya regulasi, tetapi soal prediktabilitas. Pengembang perlu aturan yang jelas dan konsisten agar mereka bisa merancang game, monetisasi, dan strategi pasar dengan percaya diri,” katanya.

Dukungan juga dibutuhkan untuk membawa IP lokal ke pasar global, mulai dari strategi ekspansi, pengelolaan bisnis internasional, hingga pemahaman terhadap lokalisasi budaya dan perilaku konsumen di berbagai negara.

Hewish menyoroti monetisasi dan sistem pembayaran lintas negara sebagai tantangan utama studio Indonesia dalam memasuki pasar global. Infrastruktur pembayaran yang terpercaya dianggap sangat penting untuk meningkatkan metrik bisnis kunci seperti average revenue per user (ARPU) dan customer lifetime value (LTV).

“Ada lebih dari 1.000 metode pembayaran yang digunakan pemain game di seluruh dunia. Semakin banyak metode pembayaran yang terintegrasi, semakin besar peluang pemain untuk bertransaksi dan semakin tinggi tingkat kepercayaan mereka,” jelasnya.

Kemudahan dan keamanan transaksi, menurut Hewish, berkontribusi langsung pada peningkatan pendapatan jangka panjang, sekaligus mengurangi churn dan risiko penipuan.

Seiring dengan pesatnya pertumbuhan esports dan game live-service, Hewish melihat esports sebagai penggerak ekonomi digital yang tidak hanya sekadar hiburan. Dengan populasi muda yang melek teknologi dan dominasi mobile gaming, Indonesia dianggap memiliki potensi besar menjadi pusat esports mobile di kawasan.

“Esports bukan hanya tentang kompetisi. Ia menciptakan fandom, komunitas, merchandise, dan ekosistem ekonomi yang luas,” ujarnya.

Dia menilai esports sebagai bentuk hiburan unik yang menggabungkan game, komunitas, dan ekonomi kreatif dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

Baca Juga: Main Game Gak Harus Mahal! Ini 11 Laptop di Bawah Rp10 Juta Paling Gahar 2025

Menyoroti dominasi asing dan risiko ketimpangan struktural, Hewish menekankan pentingnya kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. Kepastian regulasi, akses terhadap modal jangka panjang, dan struktur pembiayaan yang mendukung proses scaling menjadi prioritas utama.

“Sering kali bukan game pertama yang sukses. Dibutuhkan waktu, eksperimen, dan tim yang solid sebelum sebuah studio menemukan hit-nya. Kerangka kerja yang menghargai proses itu sangat penting,” katanya.

Dia juga menekankan perlunya insentif bagi perusahaan asing agar tidak hanya mengambil nilai dari pasar Indonesia, tetapi juga membangun basis operasi lokal, melatih dan merekrut talenta dalam negeri, serta menciptakan infrastruktur industri yang berkelanjutan.

“Tujuannya bukan sekadar membawa game ke Indonesia, tetapi membangun ekosistem di Indonesia,” pungkas Hewish.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Bagikan Artikel: