Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Gapmmi Dorong Industri Mamin Topang Target Ekonomi 8%

Gapmmi Dorong Industri Mamin Topang Target Ekonomi 8% Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Industri makanan dan minuman (mamin) mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025. Sektor ini tumbuh 6,38%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11% dan industri manufaktur secara keseluruhan.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman menyampaikan, meski mencatat pertumbuhan 6,38%, capaian tersebut masih jauh dari target jangka panjang industri. Ia menilai, sebelum pandemi Covid-19, industri mamin mampu tumbuh konsisten di kisaran 7–9%.

“Kita ingin pertumbuhan mamin jauh lebih tinggi. Dan ini harusnya bisa mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan presiden di 2029,” ucap Adhi dalam acara Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Baca Juga: Jaga Inflasi, Pemerintah Perkuat Koordinasi Pengadaan Pasokan Pangan

Adhi menjelaskan, pertumbuhan industri mamin yang lebih rendah dibandingkan periode pra-pandemi tidak terlepas dari berbagai tantangan struktural di lapangan. Salah satu yang utama adalah tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Selain itu, kinerja sektor hulu di dalam negeri dinilai masih tertinggal dibandingkan sektor hilir, sehingga melemahkan ketahanan industri secara keseluruhan.

“Banyak tantangan kita hadapi. Pertama bahan baku. Kita sangat tergantung dari impor. Dalam negeri di hulu masih lambat dibandingkan sektor hilir. Ini menjadi tantangan bersama,” ucapnya.

Baca Juga: Perkuat Ketahanan Pangan, Surplus Beras Capai 3,52 Juta Ton

Dari sisi eksternal, industri mamin juga menghadapi tekanan global, mulai dari ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga gangguan rantai pasok internasional.

“Oleh sebab itu, kalau pemerintah mau mendorong pertumbuhan 8 persen, tentu industri ini harus diberdayakan,” ujar Adhi.

Ia menambahkan, sektor manufaktur memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 19% terhadap produk domestik bruto (PDB). Selain itu, sektor ini juga berperan besar dalam penciptaan lapangan kerja.

“Kita, pertumbuhan ekonomi 1 persen bisa menambah 100.000–300.000 tenaga kerja,” pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: