Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Marak Gagal Bayar, Reputasi Kredit Jadi Harga Mahal Kesalahan Finansial Gen Z dan Milenial

Marak Gagal Bayar, Reputasi Kredit Jadi Harga Mahal Kesalahan Finansial Gen Z dan Milenial Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Maraknya kasus gagal bayar (galbay) di tengah pesatnya adopsi layanan keuangan digital mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pelaku industri menekankan pentingnya pemahaman reputasi kredit bagi generasi muda, khususnya Gen Z dan Milenial. Minimnya literasi keuangan dinilai menjadi faktor utama yang membuat anak muda rentan mengambil keputusan finansial tanpa perhitungan matang.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks inklusi keuangan telah mencapai 80,51%, sementara tingkat literasi baru berada di 66,46%. Kesenjangan tersebut terlihat jelas pada kelompok usia muda. Usia 18-25 tahun mencatat inklusi 89,96% dengan literasi 73,22%, usia 26-35 tahun inklusi 86,10% dengan literasi 74,04%, serta usia 36-50 tahun inklusi 85,81% dengan literasi 72,05%.

Melihat kondisi tersebut, PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) bersama Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dan International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia meluncurkan Mojang (Modul Bijak Keuangan), sebuah panduan literasi keuangan praktis yang menyasar Gen Z dan Milenial.

Baca Juga: Utang Masyarakat di Pay Later Tembus Rp11,94 Triliun Naik 75%

Kepala Divisi Perencanaan, Pengembangan, Evaluasi Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Naomi Triyuliyani mengapresiasi peluncuran Mojang sebagai sarana diseminasi literasi keuangan yang melibatkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

“Kami berharap peluncuran Mojang menjadi langkah awal bagi kita semua untuk terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam literasi keuangan ataupun motivasi untuk terus meningkatkan skill kehidupan lainnya,” kata Naomi.

Sekretaris Jenderal AFTECH Firlie Ganinduto menilai laju adopsi layanan keuangan digital di kalangan Gen Z dan Milenial berjalan sangat cepat dan perlu diimbangi dengan penguatan literasi yang sejalan.

“Bagi AFTECH, inovasi fintech harus berjalan beriringan dengan literasi keuangan dan perlindungan konsumen. Mojang menjadi contoh kolaborasi strategis agar generasi muda tidak hanya punya akses, tetapi juga pemahaman dalam menggunakan layanan keuangan digital secara bertanggung jawab,” ujar Firlie.

Sebagai penyelenggara pendanaan digital berizin dan diawasi OJK, Easycash menilai peningkatan literasi keuangan menjadi kebutuhan mendesak seiring perubahan perilaku finansial generasi muda. Mojang dirancang sebagai panduan praktis yang membahas pengelolaan arus kas, manajemen utang, reputasi kredit, serta kemampuan membedakan platform pendanaan berizin dan pinjaman ilegal.

Baca Juga: OJK Batasi Utang Pinjol Hanya 30% dari Gaji Mulai 2026

Direktur Utama Easycash Nucky Poedjiardjo menekankan bahwa kesalahan finansial pada usia muda berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap reputasi kredit.

“Gen Z dan Milenial hidup di tengah arus informasi dan pilihan yang serba cepat, sehingga rentan salah langkah dalam mengambil keputusan finansial,” ujar Nucky.

President & Chairman IARFC Indonesia Aidil Akbar Madjid menambahkan, reputasi kredit merupakan cerminan perilaku finansial seseorang yang akan menentukan akses terhadap layanan keuangan di masa depan, mulai dari pinjaman hingga perencanaan keuangan jangka panjang.

“Di tengah maraknya fenomena gagal bayar, pemahaman tentang reputasi kredit menjadi semakin krusial agar generasi muda tidak terjebak pada konsekuensi yang berkepanjangan,” kata Aidil.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: